Rabu, 03 Oktober 2012

52 tahun Mengarungi Samudera Kehidupan

3 Oktober 2012

Pagi ini, saat aku membuka mata, yang pertama terlintas di pikiran adalah "Hari ini bokap ulang tahun!"
Aku pun beranjak dari tempat tidur dan membangunkan Ibu serta adik yang masih terlelap. Dengan penuh semangat aku mengatakan pada mereka "Ayoooo telpon Bapak! kan hari ini Bapak ultah!!!"

Mereka pun bangun dan kami bertiga sama-sama menuju pesawat telepon. Ibu angkat gagang telepon dan menekan nomor handphone Bapak.

"Halo" kata suara di seberang, yaitu Bapak.

"Pak.. selamat ulang tahun yaaa.." kata Ibu ku dengan setengah berteriak. Penuh semangat dan kegembiraan.

Aku dan adikku yang ada di belakang Ibu ikut berteriak untuk mengucapkan "Selamat ulang tahun, Paaaaak!". Lalu, Ibu memberi kesempatan kepada kami berdua untuk berbicara langsung pada Bapak. Senang rasanya mendengar suara Bapak di telepon dan bisa memberikan ucapan selamat atas bertambahnya usia Bapak.

---------------------------------------------------------------------------------------------

sumber gambar : www.flickr.com
Ya.. Hari ini Bapak berulang tahun yang ke-52.
52 tahun mengarungi samudera kehidupan yang penuh lika-liku. Ada sukacita yang membuat Bapak merasa beliau adalah ayah sekaligus suami paling bahagia di dunia ini. Namun, tak jarang, badai menghampiri Bapak. Membuat Bapak harus berusaha tetap survive untuk melewatinya. Melewati badai agar nantinya kembali bisa melihat cerahnya kehidupan. Karena, beliau percaya bahwa badai pasti berlalu.

Bapak adalah sosok yang keras, tapi juga humoris. Seringkali, ketika ada di rumah, Bapak bercanda dengan kami semua (Ibu, aku, dan adik). Tak jarang, kami habiskan waktu dengan mengobrol sambil menikmati secangkir teh manis hangat di meja makan. Namun, ya, Bapak orang yang cukup keras. Ketika beliau mengatakan "A", maka haruslah "A". Mengajarkan kami (aku dan adik)untuk tetap teguh memegang prinsip dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang kami pilih.

Pekerjaan Bapak saat ini menuntutnya hanya bisa pulang di hari Minggu saja. Kemudian, di Senin pagi harus bekerja lagi, meninggalkan rumah selama 6 hari. Namun, lewat pekerjaan yang dijalani Bapak saat ini, beliau mengajarkan aku untuk terus berusaha keras. Serius dalam menjalani kuliah agar bisa lulus menjadi sarjana tepat waktu dan mengejar karir. Bapak juga mengajarkan pada aku dan adik mengenai kesederhanaan dan tidak memboroskan uang untuk sesuatu yang hanya menjadi keinginan bukan keperluan.

52 tahun sudah Bapak merasakan manis dan pahit kehidupan. Selama itu pula, Bapak terus belajar. Belajar untuk semakin memperbaiki dan mendewasakan diri. Bapak pun terus berusaha sampai detik ini untuk menjalankan tugas tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan suami bagi keluarga ini.

sumber : www.google.com
Terima kasih, Tuhan Yesus untuk satu tahun lagi usia yang Kau tambahkan untuk Bapak.Terima kasih karena Kau terus pimpin, lindungi, dan berkati Bapak. Terima kasih karena Kau berikan sosok yang begitu keras, namun humoris dalam keluarga ini. 
Bapak.. selamat ulang tahun. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan semakin sukses. Bukan hadiah mahal yang bisa aku berikan. Hanya lewat doa dan tulisan ini semua harapan untuk Bapak aku ucapkan. Terima kasih untuk kasih sayang, nasihat, dan pelajaran kehidupan yang Bapak ajarkan untukku. Aku, Ibu, dan Adik sangaaaaaaat menyangi Bapak :)


Senin, 01 Oktober 2012

I'm so Sorry, my Brother :"(

Maafin kakak ya dek tadi udah bentak dedek di telpon. Maafin karena udah buat dedek marah. Maafin karena udah ngomong gak sopan di telpon.

Jadi, begini ceritanya.
Tadi siang selesai kelas Mettes, gue beranjak ke Foodcourt Plaza Semanggi untuk ngerjain tugas kelompok Pelatihan. 

Singkat cerita, gue pun merasa haus dan akhirnya pergi ke Giant untuk beli sebotol gede (baca : 1,5 liter) air mineral. Karena, gak akan cukup kalo hanya botol sedang yang 600 ml itu. Di perjalanan gue kembali ke Fodcourt, hape gue bergeter.

HOME calling..

Gue angkat dan ada suara adek gue diseberang telepon sana. Gue pikir, dia bakal nanya "mau pulang jam berapa?" , "bareng ibu apa engga?", atau apalah gitu. Eh, gak tau nya dia nanyain charger laptop ada dimana. Jujur aja, gue lupa banget naroh dimana. Karena, yang gue inget, semalem udah gue beresin dan jujur gue lupa taroh tuh charger dimana. 

Nah, karena setiap gue sebutin sudut tempat adek gue bilang gak ada, gue emosi. Emosi tingkat dewa yang akhirnya bikin gue menaikkan nada bicara gue. "Yaudahlah dicari sendiri kenapa sih? Gue juga masih ngerjain tugas ini."

TUT.. TUT.. TUT..

Suara telpon keputus. 

Adek gue engga komentar apa-apa dan hanya mematikan sambungan telepon begitu saja. Gue pun kesel. Tapi, gak sampe 5 menit, gue justru merasa menyesal. Menyesal karena udah bentak adek gue dengan seenaknya. 

Yah.. akhirnya, gue minta maaf sama adek gue. Gue coba basa-basi dulu via twitter. Dan, DIBALES! Gue seneng banget. Meskipun, pas sampe rumah, dia masih keliatan marah sama gue.

Sekali lagi, maafin kakak ya dek..


Senin, 24 September 2012

FOLLOW

Dipercaya jadi tuan rumah Ibadah Raya itu ternyata susah-susah-gampang. Kenapa? Ya, karena memang banyak hal yang harus dipersiapkan, koordinasi mesti lancar dan jangan sampai ada salah paham, dan terus mempertahankan semangat sampai hari H.

Well, di bulan September 2012 ini, gereja tempat gue bernaung, GKJ Tangerang dipercaya jadi tuan rumah penyelenggara Ibadah Raya Pemuda - Remaja GKJ Klasis Jakarta Bagian Barat. Tepatnya, di tanggal 22 September 2012 kemarin, kegiatan bisa terlaksana dengan BAIK! :) (yey)

By the way, gue mau jelasin dulu nih soal apa sih Ibadah Raya itu? Terus, GKJ Klasis Jakarta Bagian Barat itu apaan? Nah.. begini penjelasannya. Gereja Kristen Jawa (GKJ) yang tersebar di seluruh pulau jawa terbagi menjadi beberapa klasis, ya semacam bagian gitu mungkin. Nah, di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat GKJ terbagi menjadi 2 klasis, yaitu Timur dan Barat.

Mereka yang ada klasis Timur adalah GKJ Jakarta, GKJ Tanjung Priok, GKJ Pangkalan Jati, GKJ Bekasi, GKJ Pondok gede, GKJ Gandaria, GKJ Bogor, dan GKJ Bekasi Timur.

Nah, mereka yang ada di klasis Barat adalah GKJ Eben Haezer, GKJ Nehemia, GKJ Depok, GKJ Grogol, GKJ Tangerang, GKJ Yeremia, GKJ Pamulang, GKJ Kanaan, dan GKJ Joglo. Oh iya, yang dicetak tebal (bold), adalah gereja tempat gue bernaung, beribadah, dan bertumbuh :)

Well.. kegiatan klasis macem-macem pastinya. Salah satunya adalah Ibadah Raya Pemuda Remaja. Ibadah Raya yang diadakan secara berkala setiap tahun dan memiliki tuan rumah yang berbeda-beda pula. Biasanya sih dibuatnya per Klasis, tapi gak jarang juga Timur dan Barat bikin Ibadah Raya bareng.

Oke.. tahun ini, gereja gue jadi salah satu tuan rumahnya. Bikin Ibadah Raya yang menunjukkan identitas dari Pemuda dan Remaja GKJ Tangerang. Gue pun dipercaya menjadi koordinator atau ketua panitia untuk kegiatan ini dengan wktu persiapan kira-kira 2 bulan.

Tema yang dipilih adalah FOLLOW. Awalnya sih kepikiran dari Twitter. Waktu lagi ngumpul-ngumpul buat nentuin konsep acara Ibadah Raya, ada salah seorang temen yang iseng aja nyebut kata FOLLOW. So, akhirnya, kita putuskan tema nya FOLLOW.

FOLLOW disini berarti mengikut Tuhan Yesus (ya iyalah, siapa lagi? :p) bukan mengikut yang lain. Menjadikan Tuhan Yesus sebagai teladan dan berjanji kalau kita akan senantiasa selalu mengikuti DIA.

Nah, Puji Tuhan banget.... kegiatan boleh berjalan dengan baik. Gue sangat berterima kasih untuk semua teman-teman yang udah bantu.. :) kalian semua rock n roll!!! :D


Jumat, 21 September 2012

Tidak Sengaja Bertemu di Lantai 6

Keinginan kuat gue untuk move on emang banyak banget cobaannya.
Mulai dari ke-kepo-an gue yang selalu mau tahu update-an dari si E di Facebook-nya, padahal dia juga engga update apapun. Terus, setiap kali parkir motor, gue sering banget tengok kanan-kiri, berharap banget bisa ketemu dia.

Ah!

Ternyata sulit banget buat move on. Lelaki-Berinisial-E itu padahal ngejalanin rutinitas di kampus nya secara "normal", tapi gue suka uring-uringan sendiri kalo engga ketemu dia. Selalu ngebatin, "kok dia engga ada ya di kampus?" atau engga "gue bakalan ketemu dia gak ya nanti?". Tapi, kalo udah ketemu, yang ada gue cuma bisa melengos, pura-pura gak tau, belaga bego.

Sama kayak yang terjadi hari ini, tepatnya pagi ini. Gue nyampe kampus di jam 08.30 langsung ke Gedung C lantai 6 karena jam 11 gue ada praktek di Labortarium Monitoring yang letaknya di lantai itu. So, gue sama ketiga orang temen nunggu aja disitu. Gak lama kemudian, saat gue lagi latihan sebelum praktek, tak sengaja kedua mata gue mengarah ke lift yang berhenti di lantai 6. Dan.. JRENG!!!!

Keluarlah sosok laki-laki, menggunakan kaos hitam, ransel berwarna coklat, celana jeans yang warna nya udah engga paham lagi deh antara hitam sama abu-abu, dan ya... sendal jepit yang selalu dipake kalo kuliah.

Gak lain gak bukan, lelaki itu adalah E! Dia keluar dari lift, terus nengok ke kiri. Dan, disitu ada gue. entah dia aware atau engga nih sama kehadiran gue disitu, tapi dia langsung pergi. Tanpa senyuman.

Setelah itu, dia melangkah menuju kelas. Oke, gue jadi tahu kalau setiap hari Jumat, dia ada kelas di jam 9 yang ruangannya di lantai 6. Nambah lagi info tentang dia.

Sekitar 2 jam kemudian, gue sama 3 orang temen yang akan praktikum udah dag dig dug engga karuan. Nah, di tengah situasi yang membuat gue selalu bawaannya pengen buang aer besar, gue pun iseng untuk sekedar jalan-jalan mengitari lantai 6 yang memang tidak terlalu besar itu.

Saat gue lagi asyik-asyiknya berjalan di atas sepatu vantovel 7 cm, gue pun berpapasan lagi dengan dia! MATI GUE!!!!

Gue skak mat disitu. Gue mau balik arah, kok kesannya gue jual mahal bener. Tapi, kalau jalan terus, artinya gue akan makin papasan sama dia. Nah, gue bingung! Gue cuma waktu se-per-sekian detik untuk ambil keputusan. Akhirnya, gue putuskan untuk jalan terus.

E yang saat itu baru keluar dari toilet hanya memandang gue sekali. Gue dan E sama-sama jalan terus, tapi, gue berat untuk mengangkat wajah dan menorehkan senyuman di wajah gue buat dia. Gue pun hanya tertunduk. Sikap yang ditunjukkan Lelaki-Berinisial-E juga tidak jauh beda dengan yang gue lakukan. Dingin.

Saat gue tahu jarak kita sudah semakin jauh, gue merapat ke tembok. gue atur nafas gue supaya "normal" lagi. Dan, gue sedih. Sedih dan menyesali kenapa gue engga coba senyum ke dia? Kenapa gue terlalu jaim? Kenapa gue bersikap seolah-olah gue enggak kenal dia? KENAPA???!!!!

Ya.. gue akhirnya, di petang hari ini, merasa kalau keinginan move on gue belum sepenuhnya menjadi niat dan tekad. Ibaratnya baru anget-anget tai ayam. So, gue masih coba lagi nih mengambil langkah pertama untuk move on.

AYOOO MOVE ON, SARAH!!!!!


Senin, 17 September 2012

Lelaki berinisial E

Saat ku jumpa dirinya di suatu suasana, terasa getaran dalam dada.
Ku coba mendekatinya, menatap dirinya, oh dia sungguh mempesona.
Ingin aku menyapanya, menyapa dirinya, bercanda tawa dengan dirinya.
Namun apa yang kurasa, aku tak kuasa, aku tak tahu harus berkata apa?

inikah namanya cinta?
inikah rasanya cinta?

Penggalan lirik itu mungkin sesuai dengan kisah yang gue alami di penghujung tahun 2010. Pertama kali gue liat dia di kampus untuk meminta tanda tangan senior, gue udah merasa ada sesuatu yang berbeda. Padahal saat itu, dia hanya menggunakan kaos berwarna hitam, celana jeans warna senada, dan sendal jepit. Engga ada yang spesial dari penampilannya, tapi, buat gue momen itu adalah sesuatu yang spesial. 

Setelah itu, gue pun tahu namanya, angkatannya, dan nomor handphone nya. Tapi, gue engga akan mengambil langkah ekstrim untuk mulai sms duluan. Lagipula, gue sama sekali belum kenal dia. Buat apa juga gue sms duluan?

Inisal E!
Kita sebut dia demikian di tulisan ini. Seorang cowok berdarah batak, berkulit gelap, dan berinisal E. Seorang cowok yang akhirnya membuat gue betah untuk terus ada di kampus. Seorang cowok yang memang dingin sikapnya, tapi membuat gue semakin penasaran untuk mengenalnya lebih dekat.

Doa gue sepertinya dijawab oleh Tuhan. Gue punya kesempatan untuk bisa ketemu dia lebih intens di semester ke-2, di bulan Maret tahun 2011. Saat itu, di kelas Statistik II gue bisa sekelas sama dia. Senangnya luar biasa. Karena, setiap hari Sabtu, gue punya kesempatan untuk bertemu dia, melihat dia di kelas dan siapa tahu gue akhirnya bisa mengenal dia lebih dekat.

Ternyata, eskpektasi gue terlalu tinggi. Selama satu semester di kelas Statistik II, gue justru hanya berani menatap dia. Melihat dia dari kejauhan tanpa berani menyapanya sedikitpun. Setiap kali tatapan mata kita tidak sengaja bertemu, gue justru menghindar. Gue terlalu takut untuk memulai percakapan terlebih dahulu sampai akhirnya, kelas Statistik II pun selesai. Gue seneng banget bisa lulus, meskipun secara bersamaan, gue merasa sedih karena engga bisa bertemu E lagi secara intens.

Semester ke-3, gue engga bisa bertemu E lagi secara intens. Hanya sesekali saja, entah itu di suatu restoran cepat saji di samping kampus, di depan gerbang saat dia ngerokok, atau di hall tempat anak-anak Psikologi asik mengobrol dan mengerjakan tugas. 

Sebenarnya banyak kesempatan untuk gue bisa mengenalnya lebih dekat, tapi gue terlalu takut. Gue terlalu jaim untuk sekedar memberi senyuman atau menyapa. Gue berharap terlalu tinggi untuk sesuatu yang tidak gue usahakan. 

Kesempatan itu datang lagi. Gue punya kesempatan ke-2 untuk bisa mengenalnya lebih dekat. Kali ini di kelas Psikologi Klinis, di semester padat tahun 2012. Di bulan Januari itu, gue bisa satu kelompok dengan E. Kelompok yang sudah dibentuk di awal kelas adalah kelompok yang akan dipakai sampai kelas ini berakhir. Jadi, selama 2 bulan, gue akan terus di dekat E. Oke, itu ekspektasi gue, yang (mungkin) terlalu tinggi.

Apa yang gue harapkan engga sepenuhnya salah. Gue memang jadi lebih intens untuk bisa ketemu E. Gue jadi berani untuk mengobrol dan mentapa matanya. Gue jadi engga canggung untuk mulai sms duluan. Gue merasa seneng banget ketika kerja kelompok, dia duduk di samping gue. Gue merasa engga karuan saat denger suaranya di telepon. Ditambah lagi, setiap kali kelas, duduk dengan teman sekelompok dan membuat lingkaran adalah suatu kewajiban. Sometimes, I sit beside him, but usually I sit in front of him. So, can you imagine how happy I am at that time? :)

Mengingat momen yang terjadi 8 bulan lalu itu hanya membuat gue menyesal. Menyesal karena, selama 2 bulan kesempatan itu di depan mata, tapi tidak gue manfaatkan. Kembali, tingginya jaim gue yang membuat semua langkah awal yang sudah disiapkan, hanya jadi goresan di atas kertas. Tidak pernah gue realisasikan. Hanya di impikan.

Sedih? Iya.
Kesel? Iya.

Sekarang, jangankan bisa tertawa bersama lagi seperti di bulan Januari, menyapa dan memberi senyum pun berat untuk gue lakukan. Saat gue merasa yakin akan perasaan gue sama dia, gue bertekad untuk serius. Gue bertekad kalau gue punya kesempatan bisa jadian sama dia, gue akan menjalaninya dengan serius. Salah satu alasannya adalah gue udah lelah untuk hubungan yang engga serius. Alasan berikutnya, gue merasa yakin kalau dia adalah seorang cowok yang tidak akan main-main untuk urusan asmara. So, semua alasan itu yang akhirnya membuat gue membawa perasaan ini dalam doa.

Sepertinya, doa gue terjawab. Lelaki-Berinisial-E akhirnya tahu perasaan yang gue pendam untuknya selama hampir 2 tahun. Sayangnya, takdir yang gue terima adalah cinta gue bertepuk sebelah tangan. Pelan tapi pasti, gue akhirnya tahu kalau cintanya bukan untuk gue. Entah karena gue memang gue bukan cewek idaman yang dia cari, atau karena sudah ada seseorang di hatinya. Satu hal yang pasti, gue sedih.

Kesedihan yang berlarut-larut bukan hal yang baik. Semua tahu itu, termasuk diri gue. Makanya, gue mau banget untuk move on. Gak mudah memang, tapi gue harus bisa. Gue engga mau kalau akhirnya gue menutup mata dan hati gue untuk orang lain. Bukan bermaksud sok religius, tapi gue tetap berusaha bawa semua dalam doa. Meskipun, engga jarang gue marah karena sakit hati harus gue alami lagi. 

Hey, Lelaki-Berinisial-E..
Gue engga berharap banyak untuk cinta lo bisa gue miliki. Karena, cinta tidak harus memiliki kan? 
Tapi, satu hal yang harus lo tau, lo udah buat hidup gue lebih berwarna. Manis dan asem bisa gue rasain, salah satunya karena lo. Gue mungkin bukan yang terbaik buat lo dan lo pun mungkin bukan yang terbaik buat gue. Meksipun begitu, semua hal yang gue lewati bersama lo, engga akan gue lupakan :)


Best regards,
your ex secret admirer

Minggu, 26 Agustus 2012

[Refleksi Diri] Mampukah Saya?

Menjalani tugas dan tanggung jawab menjadi seorang pemimpin bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak "perlengkapan" yang harus disiapkan di dalam diri seseorang yang dipercaya untuk menjadi seorang pemimpin. "Perlengkapan" yang saya maksud adalah kesiapan secara mental dan fisik dari orang tersebut. Ia harus bisa mengayomi, bersikap netral atau adil, bijak dalam pengambilan keputusan, dan menjadi orang yang objektif.

Berdasarkan pemikiran pribadi, saya merasa bahwa di dunia ini ada cukup banyak orang yang memang terlahir dengan jiwa kepemimpinan yang tinggi. Buat saya, itu merupakan sebuah nilai plus dan anugerah terbesar yang Tuhan berikan. Namun, tidak sedikit juga orang-orang yang tidak terlalu menonjol dalam segi kepemimpinan. Sehingga, ia perlu seseorang yang bisa membimbing dan memimpinnya untuk menjalani suatu tugas.

Saya coba refleksikan pemikiran tersebut kedalam kehidupan pribadi saya. Saat ini, saya dipercaya menjalani suatu tugas pelayanan sebagai seorang koordinator. Ya, memang namanya "koordinator", tapi makna nya tetap sama dengan pemimpin. Disini, saya menduduki posisi "Koordinator Umum". Saya tergabung dalam sebuah tim pelayanan Pemuda dan Remaja di Gereja. Saya bertanggung jawab atas mereka yang berada di tim pemerhati, koordinator pemuda, dan koordinator remaja.

Namun, belum sampai 3 bulan saya menjalani tugas pelayanan ini, saya merasa ada cukup banyak beban dalam menjalaninya. Sistem yang baru memang dibuat di kepengurusan ini dan saya masih meraba yang baru ini dengan terus merefleksikan dan mengoreksi diri saya. Tetapi, lagi-lagi saya merasa terbeban.

Terbeban untuk bisa menjadi pengayom yang benar-benar mengayomi. Merasa tidak memiliki kapabilitas untuk menjadi seseorang yang objektif. Berfikir bahwa saya tidak mampu menjadi seorang koordinator yang bijak dan adil dalam mengkoordinir kepengurusan ini untuk masa 2 tahun. Lalu, muncul tanda tanya besar di pikiran saya, "apakah benar tanggung jawab ini diberikan pada saya".

Saat menggodok kepengurusan yang baru, 3 orang kakak rohani yang dalam hal ini saya sebut sebagai formatur kepengurusan, mengatakan bahwa mereka mempercayai saya dan merasa bahwa Sarah Rezivvon Tinayo (nama lengkap saya) mampu untuk menjalaninya. Saya merasa kaget saat itu dan memang saya mengatakan bahwa "ya saya bersedia" ketika ditanya apakah saya mau menjadi koordinator umum.

Kemudian, apa yang membuat saya merasa terbeban? Apakah hanya karena saya merasa "tidak mampu", "tidak sanggup", dan "tidak memiliki kapabilitas"?

Jawabannya : BUKAN!

Ya, bukan cuma itu alasannya. Semua alasan tersebut muncul karena memiliki akar. Akar tersebut adalah mengenai idealisme yang saya miliki. Saya ingin ini-itu dalam program kerja nanti. Belajar dari kesalahan ketika menjadi Ketua Remaja 3 tahun lalu, kali ini, saya coba untuk menyerahkan dan mempercayai seluruhnya pada tim. Tetapi, (entah hanya perasaan saya saja atau bukan) saya merasa ekspektasi saya terlalu tinggi. Saya berharap penuh pada mereka, namun saya merasa agak kecewa.

Beban saya semakin bertambah ketika kami dalam tim sedang mempersiapkan suatu acara di Gereja dan ditanya oleh ketiga formatur ini tentang visi dan misi. Rasanya saya seperti dihantam batu di kepala. Jujur saja, visi dan misi sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya. Lalu, akhirnya, dibuatlah suatu term yang lebih sederhana, yaitu tujuan. Lagi-lagi, saya merasa "salah".

Merasa salah atau mungkin lebih tepatnya menyalahkan diri sendiri karena saya-sebagai koordinator umum- tidak memikirkan hal yang terlihat kecil namun kompleks tersebut, visi dan misi. Menyalahkan diri sendiri karena ingin membuat perubahan dalam kepengurusan ini, namun semuanya hanya sesuai keinginan saaya saja. Menyalahkan diri sendiri karena saya merasa bahwa yang saya lakukan bukanlah suatu pelayanan.

Itulah yang menjadi beban pikiran saya saat ini. Saya pun terus menerus bertanya pada diri saya, "Mampukah Saya"??? 
Entah kapan pertanyaan tersebut akan terjawab. Harapan yang saat ini ada dalam diri saya adalah, saya mampu menjalani kepengurusan ini dengan baik.


Rabu, 08 Agustus 2012

#randomandom ala jondeyuhu

Pagi-pagi gue buka account twitter.. maksud hati pengen nge-tweet soal suatu kegiatan Gereja.. eh, malahan tergoda untuk membaca tweet dari salah seorang teman. Berbagai tweet dengan judul #randomandom .

Awalnya, gue bingung. Ini orang kurang kerjaan atau emang sengaja nge-tweet berbagai hal yang ternyata emang random banget (kali ini bukan pake "aja" tapi udah pake "banget" lol) dan gue dari awalnya senyum-senyum sendiri, eh jadi ketawa ngakak.

Daripada nyerocos terus, nih tweets yang dikasih judul #randomandom

Mari ramaikan TL pagimu dengan secangkir kopi hangat, jangan dengan segelas sirup marjan.  
Kekenyangan adalah dimana jarak tempuh ruang tamu ke kamar terasa seperti perjalanan Jakarta-Depok via Auckland sambil kayang.
Aus adalah disaat kamu berada dilapangan, dan untuk ke rumah serasa menempuh perjalanan Jakarta - Auckland. 
Dan waktupun semakin menghimpit. Ketika semua orang ingin berlari, aku justru hanya ingin menari. Sekalipun di eskalator.
Miskin ilmu, padahal kaya waktu. Ya kaya saya ini. 
Kaya teori, miskin praktiknya. Ya kaya saya ini. 
Sarapan pagi aja susah, kok masi dibilang negara kaya?
Yang nyolong banyak, kenapa dibilang negara kaya? 
Make seat belt aja susah, kok udah ngakungaku negara kaya? 
Ibukota kumuh, kok masi dibilang negara kaya?  
Yang miskin banyak, kok masi dibilang negara kaya?  
Yang nonton Justin Bieber banyak, kok masi dibilang negara miskin? 
Yang nonton Justin Bieber banyak, kok masi dibilang negara miskin? 
Yang marah-marah banyak, kok masi dibilang negara miskin? 
Yang punya mobil banyak, kok masi dibilang negara miskin? 
Yang kaya banyak, kok masi dibilang negara miskin?  
Perut penuh, tapi hati dan otak gapernah penuh.  
'Bingung' sebenarnya adalah alasan yang melemahkan.

Nah.. bagaimana? totally random, right?

Tapi.. sebenarnya kalo menurut gue secara pribadi nih.. pikiran random itu engga salah lho. Terus, gue juga melihat, tweets dari salah seorang sahabat gue ini cukup beragam. Terutama yang soal "negara miskin" dan "negara kaya". Dua hal yang bertolak belakang, tapi memang itulah kenyataan yang ada di Indonesia.

Gak usah ngomongin soal ilmiah, data pendukung, dan lain-lain. Soal mobil banyak, ya memang itulah kenyataan di negara kita ini. Di Jakarta aja, coba berapa individu yang punya mobil lebih dari 1? Nah, nonton konser musik? Wah, itu sih udah jadi salah satu lifestyle nya masyarakat Indonesia, terutama Ibukota.

Coba sekarang telaah ke soal negara kaya..
Paling menggugah buat gue adalah soal "nyolong". Hemmm.. di berita yang ada di koran, televisi, atau internet, bukan hal mustahil bin mustahal kalo kita nemuin berita soal tindakan kriminal, kan? Mencuri misalnya, ya bahasa kerennya nyolong. Nah, kalo masih banyak pelaku kriminal seperti itu, apakah negara ini bisa disebut kaya? Wah, silahkan Anda jawab sendiri yaaa :)

Well..
Apapun yang jadi buah pemikiran kita, entah itu random atau bukan, menurut gue sah-sah aja. Tweets tentang #randomandom ini misalnya. So, bagaimana dengan Anda??