Jumat, 20 April 2012

Paragraf untuk Sahabat

Hei sahabat..
aku rindu masa-masa kita melepas cerita. Bersama kita tertawa dan menangis, sampai tanpa sadar, waktu berganti dan akhirnya memisahkan kita. Jarak diantara kita tak berarti apa-apa, karena kita merasa saling memiliki. Kita adalah satu.

Satu yang akan selalu ada dalam susah maupun senang. Menjadi pendengar setia untuk segala keluh kesah. Memberi pundak untuk jadi tumpuan saat ada yang menangis. Menenangkan dengan belaian tangan dan kata-kata indah yang tulus diucapkan. Kita adalah satu, sahabat.

Tapi.. itu semua menjadi satu kenangan bagiku saat ini. Satu untuk makna yang berbeda. Aku kehilangan sahabatku, yaitu kamu. Aku merasa diantara kita seperti ada sebuah tembok besar yang sangat kuat, sulit untuk dirobohkan. Kita terpisah layaknya air dan minyak atau seperti langit dan bumi. Tak ada lagi rasa memiliki dan tak lagi ada kata "satu".

Ibarat sebuah perang, hubungan kita saat ini seperti sebuah perang dingin. Tak ada cekcok diantara kita, hanya saling diam. Diam tidak peduli. Atau mungkin, kita masih saling peduli, hanya saja merasa gengsi? Entahlah! Jawabannya hanya ada dalam diri kita masing-masing.

Sampai kapan perang dingin ini akan terus terjadi?

aku tidak mau terus-menerus seperti ini. aku bukan batu karang yang kuat untuk berdiri sendiri meskipun dihempas angin dan diterjang ombak. Aku butuh kamu, sahabat.. Kamu yang akan memberiku kekuatan disaat aku gontai, tempat berbagi disaat aku bersukacita, dan mendoakan saat dukacita melingkupi hidupku.


Ya.. Jauh di dalam hatiku, aku merindukanmu, sahabat. Semua cerita, tawa, dan tangis melebur jadi satu dalam sebuah album kenangan yang akan aku simpan. Aku ingin, album itu kembali kita buka bersama. Merajut lagi tali persahabatan kita, bersama-sama.

Kini, biarlah waktu yang menjawab semuanya. Ya.. biarlah..

Minggu, 08 April 2012

Hias dan Cari Telurnya!!

Hari ini, aku merayakan Paskah yang ke-21.

Kenapa 21?

Sederhana saja. Karena tahun ini, di bulan Oktober nanti, aku akan genap berusia 21.

Bicara soal Paskah, sebenarnya sejak aku berumur 1 tahun, aku sudah ikut merayakan Paskah. Meskipun, aku tidak begitu ingat perayaan seperti apa yang aku lakukan untuk memperingati Paskah saat usia ku 1 tahun, tapi, hal yang paling utama adalah pergi ke Gereja bersama keluarga.

Aku masih ingat betul, aku pernah menjuarai lomba menghias telur di gereja. Saat itu, jika hasil recall memori ku tepat, aku masih duduk di bangku kelas 4 SD. Lomba yang diadakan di Gereja dan diikuti oleh seluruh anak-anak Sekolah Minggu ini memang selalu dinantikan ketika Paskah datang.

sumber : geoboy7.blogspot.com
Semua anak berkumpul ketika kegiatan Sekolah Minggu telah selesai. Lalu, setiap anak diberikan sebutir telur ayam rebus oleh para Guru Sekolah Minggu. Disediakan juga berbagai peralatan dan perlengkapan untuk menghias telur, mulai dari lem, kertas origami warna-warni, kapas, dan lainnya. Waktu pun dibatasi, hanya sekitar 1 sampai 2 jam, lalu semua telur dikumpulkan dan dipajang. Aku pun masih ingat, ada 4 orang juri yang menilai. Dan, pengumuman pemenang disampaikan hari itu juga.

Menjadi juara 1 dalam lomba menghias telur saat itu membuatku merasa sangat gembira. Bahkan, telur yang hias, sampai aku diamkan beberapa hari. Sebutir telur ayam rebus polos aku sulap menjadi sebutir telur yang seolah-olah baru saja diwisuda. Toga yang aku buat dari kertas origami berwarna hitam ditambah topi dengan warna senada, serta hiasan berupa tempelan mata, membuatnya seolah-olah seperti manusia. Tak lupa aku lukis juga hidung dan bibirnya.

sumber : wahyudaulay.blogspot.com
Sepanjang perjalanan pulang dari Gereja tadi siang, aku mengenang lagi masa kecil ku merayakan Paskah dengan satu lomba yang juga menyenangkan, yaitu mencari telur Paskah. Telur disebar di beberapa titik di Gereja. Lalu, seluruh anak Sekolah Minggu pun berhamburan mencari telur-telur tersebut. Pemenangnya, tentu saja yang mampu mengumpulkan butir telur sebanyak mungkin.

Ah, lucu sekali jika mengingat seluruh peristiwa itu.

Tak terasa, kini, aku sudah menjadi seorang mahasiswi dan usia ku sudah kepala dua. Dulu, aku yang di "ladenin" dalam perayaan Paskah oleh para Guru Sekolah Minggu. Sekarang, giliran ku yang me"ladeni" mereka. Hatiku rasanya tentram melihat tawa dan senyum anak-anak itu. Sebuah pemandangan yang membuatku merasa rindu akan masa kecilku merayakan Paskah.

Aku gembira ketika ada lomba menghias telur, tentu dengan harapan bisa menang lagi. Aku sangat bersemangat saat ada lomba mengumpulkan telur. Ya, semua perayaan itu mungkin sudah tidak dapat aku rasakan lagi sekarang. Aku justru perlahan mulai meresapi makna Paskah yang sesungguhnya. Dan inilah proses yang akan aku jalani. Sebuah proses pendewasaan yang akan terus berjalan seiring waktu yang berganti.

Selamat Paskah..
Tuhan Yesus memberkati! :)

sumber : kash-k.blogspot.com








Rabu, 04 April 2012

JENUH

Jenuh.
Hanya 1 kata yang bisa mendeskripsikan apa yang saya rasakan saat ini.
Kejenuhan akan segala rutinitas yang selalu sama setiap hari, membuat saya merasa tidak memiliki "tantangan" dan "passion" dalam melewati 24 jam ke depan.

Banyak yang menyarankan supaya saya mencari dan mencoba "sesuatu" yang lain di luar rutinitas biasanya. Misalnya saja pergi ke kampus lewat jalan yang berbeda dari yang biasanya saya lewati. Jujur, saya pernah coba saran itu. Memang sih, memberikan efek yag sedikit berbeda. Tapi, ya, hanya sedikit.

Lalu..
Saya pun jadi bertanya-tanya sendiri tentang apa yang bisa saya lakukan untuk bisa mengatasi kejenuhan ini? Saran dari beberapa orang pun sudah saya jalani. Hanya saja, kejenuhan itu tetap menetap di dalam diri saya. Apa cuma waktu yang bisa menjawab?

Senin, 19 Maret 2012

I Will Never Forget This Day!

19 MARET 2012

Aktivitas rutin : bangun pagi, berangkat ke kampus naik bis, ngejalanin serangkaian kegiatan kuliah, lalu pulang. Itu yang normal.

Tapi, beda dengan hari ini. Penuh ke-hectic-an, emosi, dan ya, cukup melelahkan.

sumber : lootvy.blogdetik.com
Well, dimulai dari gue bangun tidur di jam 05.15. Jujur, ini kesiangan! Gue seharusnya jam 05.30 udah cabut ke kampus. Tapi, gue malahan baru siap-siap. Alhasil, gue baru berangkat jam 06.00 dan jaminan 100% gue telat untuk ikut kelas jam 07.00 *sigh*

Di bis, gue terlihat diem dan tenang-tenang aja. Tapi, dalam hati, gue teriak-teriak. Dari mulai berusaha untuk tenang sambil nge-batin, "tenang.. tenang.. lo ga telat.." sampe , "anjir nih jalanan! Jakarta emang deh ya bener-bener kalo hari Senin!" Wah, gue udah panik minta ampun. Secara, gue mesti kelas jam 7, tapi jam 6.45, gue masih di Kebun Jeruk. Kalau lancar sih mending. Ini macet, ngadet, tersendat, whatever deh.. Intinya : bis gak gerak!

Sampe juga gue di kampus jam 07.35. Gue pun dilema. Mau nekat masuk atau anteng aja di depan kelas dan nanti kumpulin tugas (yang udah gue kerjain ampe begadang) pas kelas udah bubar? Gue bener-bener dilema. Ga boong. Tapi..... Tuhan beneran baik! Gue ada temen yang terlambat juga! yihaaaaa..! 2 orang pula.

Akhirnya, gue dan 2 orang temen gue nekat masuk kelas dengan catatan : tidak diabsen! Biarin lah, yang penting dapet ilmu nya.. (cieee! gaya..:p)

Kelas pun berjalan seperti biasa. Penjelasan dosen, tanya jawab, aktivitas kerja kelompok, dan diskusi. Jam 10.30 kelas bubar dan gue gak langsung pulang karena masih ada beberapa urusan yang mesti dikerjain. Gue sempetin buat makan dulu. Secara dari pagi gue belum sarapan dan gak bawa bekal juga. Jadilah gue beli makanan di koperasi kampus.

Jam 1 siang gue pun pulang. Ah, senangnya! Setelah seharian panik dan emosi, akhirnya gue bisa santai di bis. Menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan pulang. Meskipun, pemandangan yang gue lihat ga berubah dari dua tahun lalu gue bolak-balik Jakarta-Tangerang. Hahahaha. Tapi, tetep aja, gue menikmati pemandangan itu. Jakarta dengan segala ceritanya.

sumber : foodholic.wordprss.com
Sampai di tempat gue biasanya turun dan menitipkan motor, tiba-tiba perut gue keroncongan. Cacing-cacing mulai konser minta makan. Gue liat di sekitar lokasi gue berdiri, cuma ada tukang mie ayam. Akhirnya, tanpa pikir panjang, gue putuskan ngaso sebentar sambil nikmatin semangkok mie ayam.

Cuaca udah mulai mendung sebenarnya sejak gue naik bis dari terminal Blok M. Tapi, gue gak ada firasat apa-apa. Gue asyik aja makan. Sampai akhirnya, di tengah-tengah makan, hujan turun! Gak pake rintik-rintik, tapi langsung gede! Byuuuuuur!! Analogi nya nih kayak air yang keluar dari keran.

Gue masih coba santai, walaupun tukang mie ayam udah ketar-ketir karena anginnya bikin tenda tempat dia jualan hampir terbang. Pada bisa bayangin kan kayak apa anginnya? Disitu lama-lama gue mulai ga bisa santai. Gue ikutan panik. Kacamata gue mulai basah, pandangan pun kabur. Jaket gue ikutan basah, tas, celana, sepatu semua nya ga ada yang kering.

Wah, yang paling parah ini. Makanan gue, semangkok mie ayam plus pangsit, ikutan basah! Bayangin deh ya, makan mie ayam kuahnya kecampur air ujan. Rasanya meeeeen kaga karuan! Fyuuuuh..

Kira-kira gue habisin waktu hampir 45 menit di tenda mie ayam, bersama si abang yang jual dan 1 orang pembeli yang duduk di sebelah gue. Gue nge-deprok aja disitu sambil ngelap muka pake sapu tangan. Gue ajak ngobrol aja si abang mie ayam. Ngobrolin dagangannya, keluarganya, sampe sejarah dia jualan mie ayam. Pas hujan udah mulai reda, gue pun pamit sama si abang penjual mie ayam. Gue jalan ke tempat gue nitipin motor.

sumber : kaskus.us
Disini, bisa dibilang, cobaan dateng lagi. Ga biasanya, yang jaga motor ngerasa keberatan dorong motor gue. Tiba-tiba dia bilang, "wah, bocor ini neng ban motornya". Jegeeeer!!!!! Gue berasa kesamber kilat (oke, ini lebay). Itu berarti gue ga bisa langsung balik.

Alhasil, dengan sedikit angin dari pompa si tukang jaga motor, gue bawa motor vario kesayangan gue sampe tempat tambal ban. Disana, banyak abang-abang warga kampung sekitar. Gue antara mau dan gak mau buat nambal disana. Tapi, gue pikir, udah lah daripada gue dorong sampe rumah. Akhirnya, gue parkir disitu dan minta tambal ban motor belakang.

Selama nunggu tambalan selesai, si abang-abang yang usianya hampir sama kayak gue dan jumlahnya ada 6 orang itu saling bercanda. Gue ikut terbawa suasana. Mereka bawa suasana "hidup". Bercanda nya pun gak norak dan kampungan. Makanya, gak berasa, ban motor gue udah selesai di tambal. Selesai bayar, gue langsung pulang.

**** 

Sampai di rumah, gue coba refleksi diri dan kejadian yang baru aja gue alami. Emang sih, gue bener-bener ngalamin ke-sial-an hari ini. Dan, gue hadapi ini sendirian. Tapi, ada hal yang jadi pelajaran berharga dari kejadian ini. Gue belajar untuk berinteraksi. Interaksi dengan warga sekitar yang udah lama menetap disana, hampir 3 atau bahkan 4 generasi mungkin. Bukan hal yang mudah juga untuk menjaga diri tetep "low profile" saat interaksi sama mereka. Dan,lewat kejadian ini gue balajar.

Jadi, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian, kan?

Rabu, 07 Maret 2012

CERMIN

Aku benci cermin. Sangat membencinya.
Aku heran dengan para gadis lainnya yang seusia dengan ku. Mengapa mereka senang sekali bercermin? Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memoles wajah mereka dengan make-up tebal yang menurutku lebih cocok disebut dempul.

Aku benci cermin. Sangat membencinya.
Orang pasti bertanya mengapa aku (yang adalah seorang perempuan) sangat membenci cermin.
Aku malas untuk menceritakannya. Karena, aku pernah dianggap aneh bahkan gila saat menceritakan alasannya. Lebih baik aku diam.

Aku benci cermin. Sangat membencinya.
Wajahku tidak cantik. Kulitku hitam legam. Hidungku pesek dengan tahi lalat besar di tengahnya. Alisku tipis, namun bibirku tebal. Aku sering dihina. Aku sering jadi bahan cemoohan banyak orang, termasuk teman-teman di sekolahku. Ya, akulah si gadis buruk rupa.

Aku benci cermin. Sangat membencinya.
Dua tahun lalu, aku mencoba bunuh diri karena sudah tidak tahan dihina. Aku pecahkan cermin yang ada di meja rias kamarku. Aku ambil satu pecahan, lalu aku sayatkan ke nadiku. Aku lihat darah segar mengalir dari lengan kiri ku. Aku mulai hilang kesadaran, pandangan ku pun mulai kabur. Samar-samar aku mendnegar suara Emak. Memanggil namaku, berlari ke arahku, dan ya... aku tidak tahu lagi apa yang terjadi kemudian..

Aku benci cermin. Sangat membencinya.
Itulah alasanku membenci cermin. Kini, lengan sebelah kiriku harus mengalami kecacatan. Infeksi membuat lenganku harus diamputasi. Aku, sudah buruk rupa, cacat pula. Siapa yang mau berteman denganku? Tidak ada!!! Tiap malam aku bercakap dengan bulan dan bintang. Aku mau seindah mereka. Tapi, semua sia-sia. Karena, aku terlahir dengan keadaan seperti ini. Tak punya kecantikan dan keindahan, bahkan teman pun tidak. Hanya sendiri aku di bangsal ini. Sesekali dokter dan suster masuk, hanya untuk mengecek keadaan ku.

Aku benci cermin. Sangat membencinya.
Jauhkan cermin dari diriku. Atau, jika kamu nekat memberikan cermin padaku, akan kusulap hidup mu menjadi seperti aku.

Jumat, 02 Maret 2012

Ya! Aku (mencoba) Bahagia :)

Bosan sebenarnya aku untuk menulis tentang dirinya.
Tidak memberikan kepastian untuk perasaan ku padanya. Aku membatin, "oh, jadi begini rasanya 'digantung'..?"

Sebagai manusia yang percaya bahwa semua terjadi atas kehendakNya, aku berdoa supaya ada kejelasan antara aku dan dia. Aku bosan menunggu sesuatu yang tak pasti. Tunjukkan aku jalan ya Tuhan jika ia yang terbaik untukku. Namun, jika bukan, biarlah aku bisa melupakannya tanpa harus membencinya.

Tuhan pun mendengar doaku. Aku akhirnya tahu bahwa semua hanya harapan palsu. Sedih memang. Ingin rasanya aku marah. Tapi, aku tak kuasa. Siapa aku, bisa memarahi nya atas rasa kesal ini? Hei! Aku bukan siapa-siapa nya. Hanya seorang perempuan yang menaruh harap pada seorang lelaki, namun semuanya sirna karena sang lelaki telah pindah ke lain hati.

Tidak pernah aku diperlakukan seperti ini. "Digantung" selama hampir satu tahun. Tak pernah ada kejelasan status. Aku mau memberi perhatian lebih, takut kalau dikira agresif. Cuek-cuek saja, dia pun bertanya dan agak curiga. Serba salah, bukan?

Desember, 2011.
Aku pun akhirnya tahu bahwa ia kini sudah tak lagi sendiri. Sudah menemukan seseorang yang menurutnya paling cantik di dunia ini. Aku tidak tahu kapan mereka saling penjajakan, lalu mulai dekat dan saling memberi perhatian. Aku pun berasumsi, bahwa selama aku "digantung', ia juga dekat dengan perempuan ini.

Tak tahan rasanya melihat update status facebook milik lelaki ini di home facebook ku. Semuanya tentang rasa kangen dan cinta nya pada sang pujaan hati, yang katanya sudah membuat dunia nya lebih berwarna. Ada rasa cemburu yang seringkali membakar hati ku saat membaca dan melihat semua itu.
Aku pun sampai pada titik kekesalan yang jika diukur dengan termometer, mungkin sudah mencapai angka 100 derajat Celcius. Aku akhirnya me-remove dia dari daftar teman di Facebook. Dan sepertinya, ia sudah mengetahui hal tersebut.

Meksipun kesal dan emosi sudah mencaoai ubun-ubun, di sisi lain aku coba memandang hal ini sebagai sebuah pembelajaraan berharga tentang perasaaan. Tak boleh aku terlalu berharap pada seseorang untuk membalas cintaku. Lalu, Tuhan pasti punya rencana indah. Lewat kejadian ini, aku menyimpulkan, dia bukanlah yang terbaik untukku. Aku pun bukan yang terbaik untuknya. Jadi, lebih baik menjadi teman saja.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk seseorang yang disana..
Kita mungkin tidak bisa jadi satu.
Kita lebih baik berteman.
Tapi, jauh di dalam hati, aku masih sayang sama kamu.

"... Never mind I'll find someone like you.. I wish nothing but the best for you.. Don't forget me, I beg.." (Adele - Someone Like You)

Rabu, 29 Februari 2012

Warna dan Rasa di Dunia Kuliah

Sebenarnya ini refleksi pribadi saja.
Sebagai seorang mahasiswi, ternyata lika-liku kehidupannya memang seperti roller coaster. Kadang naik, kadang turun. Kadang suka, kadang duka.
Dan memang semuanya penuh warna dan rasa. Ada manis yang kadang membuat kita (lebih tepatnya saya, karena ini refleksi pribadi) tak ingin hal itu cepat berakhir. Namun, ada juga pahit yang membuat wajah kita hilang senyuman, emosi meningkat, dan ingin hal itu cepat saja berakhir. 

Saat di SMU, saya sangat ingin cepat-cepat kuliah. Dalam benak saya, kuliah itu asyik. Jadwal kelas bisa diatur sendiri, banyak waktu luang untuk kumpul sama temen-temen, lebih mudah untuk networking dengan banyak orang, dan yang pasti tidak perlu menggunakan seragam. Wajar saja, 12 tahun menggunakan seragam mulai dari putih-merah, putih-biru, dan putih-abu-abu ; membuat saya jenuh. Kalau bisa menggunakan pakaian bebas, kan bisa lebih mengekspresikan diri, ya kan?

Tapi..
Tidak semua yang saya pikirkan itu benar dan menyenangkan. Hidup sebagai mahasiswi itu tantangannya besar sekali. Apalagi, entah beruntung atau tidak, saya terdaftar menjadi mahasiswi sebuah Universitas swasta di Jakarta yang cukup terkemuka dengan reputasi yang baik di Indonesia. Jelas, tantangannya semakin luar biasa.

Memilih kelas dari semester ke semester itu tidak semudah menjentikkan jari. Klik langsung jadi. Banyak proses yang harus dilewati. Birokrasi yang cukup panjang dan butuh kesabaran ekstra jika menghadapi masalah. Fiuuuh!

Hubungan pertemanan dan koneksi juga menjadi satu hal yang baru (buat saya pribadi) di dunia kuliah. Agak panik kalau setelah menerima KRS ternyata tidak banyak yang sekelas dengan teman-teman akrab alias peer group. Ya, memang di dunia kuliah, kita dituntut untuk mandiri. Bukan lagi jamannya bergantung sama teman akrab. Itu yang selalu berusaha saya ingat saat agak bete karena tidak sekelas dengan peer group. It's okay, yang penting lulus mata kuliah itu! hihihi

Soal koneksi, saya merasa beruntung di tahun kedua ini bisa mengenal banyak senior di fakultas maupun yang beda jurusan. Selain itu, ada beberapa alumni juga yang saya kenal. Di luar almamater yang sama, saya juga beruntung bisa mengenal beberapa teman-teman mahasiswa lainnya. Namun, dari diri saya pribadi, saya masih kurang bisa menjaga hubungan koneksi dengan baik. Sering lho, cuma saling komunikasi beberapa waktu, setelah itu hilang. Lagipula, entah kenapa ada kecenderungan saya merasa tidak percaya diri saat bertemu dan berbincang dengan orang-orang baru yang menurut saya hebat. Entahlah, rasa itu muncul begitu saja kok.. Hehehe.

Well, terakhir, mengenai jurusan yang saya inginkan. Jujur, kedua orang tua saya tidak pernah sekalipun memaksa saya untuk kuliah di jurusan atau universitas tertentu. Saya bebas memilih, namun, mereka tetap membimbing. Karena, kedua orang tua saya sadar bahwa percuma memaksakan keinginan mereka pada anak-anaknya ; saya dan adik saya. Jadi, lebih baik diberi kebebasan namun tetap bertanggung jawab atas pilihan itu.

Beberapa teman sudah pernah saya ceritakan bahwa awalnya saya sangat ingin kuliah di FISIP (Fakultas Sosial dan Politik) jurusan Hubungan Internasional dan FH di Universitas Indonesia. Ternyata, menjalani berbagai tes untuk diterima di UI tidak mudah. Semua hasilnya selalu gagal. Ideal self yang berlawanan dengan real self saya. Saya ini orang yang agak malas belajar (agak kok, belum sampai 'sangat' hehe), jadi saat mempersiapkan diri ikut berbagai tes masuk PTN (dan UI) saya santai saja. Belajar dari soal-soal di tahun-tahun sebelumnya dan membeli beberapa buku psikotest. Nah, yang seperti itu (real self saya) masak iya bermimpi menjadi keluarga besar The Yellow Jacket?

Tapi, saya gak menyerah. Di tahun 2011, pertengahan semester 2, saya ikut lagi tes SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Pilihannya hanya di UI tapi tidak cukup bernyali untuk memilih jurusan Hubungan Internasional. Akhirnya, yang saya pilih jurusan Sosiologi dan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Tapi, Tuhan memang punya rencana. Saya gagal lagi! Sedih memang, tapi saya coba terima dengan lapang dada.

Saya lanjutkan kuliah di PTS ini. Cenderung malas-malasan di semester 2 setelah kegagalan yang saya hadapi di SNMPTN tahun 2011. Tapi, anehnya, justru nilai yang saya dapat di semester ini bagus! Jauh lebih bagus dibandingan dengan semester sebelumnya. Waw! Saya pun jadi semangat untuk belajar.

Sekarang, saya akan memasuki semester 4. Saya coba refleksikan diri sendiri. Entah kenapa, saya merasa tertatih untuk mengikuti kuliah di sini. Nilai IPK saya (sampai di semester 3) cukup buruk, bahkan saya enggan menceritakan pada siapapun. Saya minder dengan teman-teman seangkatan yang superior dalam akademik. Ditambah lagi, ada beberapa teman yang survive di organisasi dan akademik. Semua sejalan, semua bagus. Saya sering membatin, "kapan ya gue bisa kayak gitu?"

Tapi, saya akhirnya mencoba untuk terus sadar bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Saya mungkin bukan orang yang baik dalam mengerjakan 2 tugas sekaligus. Saya harus fokus menyelesaikan satu tugas, baru mengerjakan tugas lainnya. Ya, tidak bisa juga dipaksakan, kan?

Refleksi ini sebenarnya sifatnya pribadi, tapi saya pikir, akan lebih baik jika orang bisa juga membacanya. Bukan bermaksud show off, tapi, saya hanya ingin mencurahkan saja isi kepala dan hati saya lewat tulisan ini. Hidup jadi mahasiswa itu kayak makan permen nano-nano (bukan promosi lhoo ya.. hehehe), ada asem ada manis.. Lakukan saja yang terbaik yang bisa dilakukan.. :)
sumber : ferrytriana.blogdetik.com