Sejujurnya aku kecewa. Aku kecewa dengan diriku yang tak mampu mengungkapkan isi hati dan pikiran pada orang lain. Aku terlalu takut dan ragu. Aku terlalu sering memikirkan perasaan orang lain, tanpa peduli dengan diriku sendiri.
Apakah ini baik?
OF COURSE NOT! People often taken for granted my kindness. They act like they care, but they don't!
Pada akhirnya aku lah yang harus menelan kekecewaan tersebut dengan rasa pahit. Aku tumpuk semua kekecewaan itu sampai menjulang tinggi dan terkubur di dalam diriku. Pada akhirnya, tak ada lagi ruang yang bisa aku sediakan untuk kekecewaan lainnya. Aku pun jatuh dalam rasa kecewa yang sangat dalam dan sampai pada waktunya, ledakan emosi pun terjadi.
Tidak.. aku tidak bisa marah sambil berteriak. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu manakala hati ini tersayat karena kekecewaan itu. Air mata ku menjadi saksi bisu betapa aku benar-benar kecewa. Aku kecewa yang mereka yang mengecewakan aku. Aku kecewa dengan diriku sendiri yang sepertinya "terlalu baik" dan mudah memberi toleransi. Aku kecewa dengan keadaan yang seringkali aku rasakan tidak adil.
Tulisan ini merupakan manifestasi kekecewaan ku yang aku buat dengan emosi yang sedang meledak. Maafkan jika lewat tulisan ini, kalian merasa kecewa pada ku. Tapi.. semua ini aku lakukan karena rasa kecewa yang sudah dalam. Aku lelah karena harus membawa kekecewaan ini kemanapun aku pergi.
kenapa cerita harian..? simple saja.. karena setiap hari, pasti ada cerita yang sayang jika tidak diabadikan dan dibagi.. :)
Jumat, 30 Mei 2014
Sabtu, 10 Mei 2014
[REFLEKSI DIRI] Nothing Worth Having Comes Easy
Aku kini bukan lagi seorang remaja perempuan dengan usia belasan. Usia ku sudah kepala dua, tepatnya dua puluh dua tahun. Aku sudah lewati masa-masa menggunakan baju putih-merah, putih-biru, dan bahkan putih-abu. Kini, aku sedang berjuang menyelesaikan masa studi S-1 yang ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Perjuangan menyelesaikan skripsi ini belum lah berakhir. Sama seperti perjuangan untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Masih ada jalan panjang yang harus aku lalui. Bahkan, ketika aku dinyatakan lulus setelah sidang, mengikuti proses yudisium, dan akhirnya wisuda pun, perjuangan itu belum berakhir. Hidup adalah perjuangan. Mau hidup, ya harus berjuang. Well, itu jadi prinsip ku saat ini.
Bicara soal prinsip hidup, rasanya jika mengingat lagi ke belakang, aku bukanlah seseorang yang memiliki semangat berjuang yang tinggi. Sejak kecil, aku terbiasa hidup senang, semua ada, dan ya belum benar-benar merasakan yang namanya perjuangan. Namun, Tuhan berikan kesempatan untuk aku berjuang. Walaupun, cara-Nya sempat membuat ku merasa hampa, kosong, tak berdaya, tak berguna, dan bahkan ingin mati saja.
Aku pun tak sampai hati sebenarnya untuk benar-benar menghabisi nyawa ku sendiri. Jika aku ingat seluruh keluarga ku, rasanya kok aku begitu egois ya? Lalu, aku pun pergi dengan sia-sia. Meninggalkan orang-orang yang aku cintai, cita-cita, dan semua harapan yang sudah aku bangun sejak lama. Ah! Aku begitu bodoh jika sampai benar-benar bunuh diri.
Ketika dalam keadaan yang terombang-ambing, I deeply thank to my Lord Jesus, karena aku dipertemukan dengan seseorang yang bersedia mendengar keluh kesahku. Seseorang yang sebenarnya aku hormati karena status dalam pekerjaanya, namun beliau adalah seseorang yang (menurutku) sangat memahami orang lain. Bagaimana tidak? Aku bisa dengan mudahnya menceritakan pikiran jahat ku untuk bunuh diri dan beliau tidak mengecap aku negatif! Sama sekali. Beliau memahami kondisi ku saat itu dan ya saat ini. Sungguh, Tuhan begitu baik!
Beliau adalah dosen pembimbing skripsi ku. Dosen yang sudah aku kagumi sejak masih berada di tahun pertama kuliah. Dosen yang bagi ku memiliki sifat keibuan yang begitu besar. Aku pun telah mendengar berbagai cerita mengenai dirinya yang berjuang dari nol meraih semua cita-citanya. Jujur saja, aku kagum!
Beliau pula yang membuat ku kembali menemukan semangat untuk mengerjakan skripsi, berdamai dengan situasi dan diriku sendiri. Beliau pula yang telah membuat ku belajar bahwa tidak ada keberhasilan yang dapat diraih tanpa perjuangan. Semakin besar perjuangan, maka hasil nya semakin besar pula. Beliau pula yang mengingatkan ku bahwa ada DIA yang telah mengatur segalanya. Hanya pada DIA lah kita sebagai umat manusia harus bersandar.
Ya.. keadaan di sekitar ku memang belum banyak berubah. Tantangan semakin berat dan besar seiring bertambahnya usia ku. Aku pun baru saja menyadari bahwa aku adalah kunci dari keadaaan ini. I AM THE KEY! Artinya, aku lah yang bisa membuka gembok nya, membuat aku dan keluargaku masuk pada fase yang lebih baik. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Hanya satu hal : BERJUANG!
Terima kasih, Ibu Murni..
Senin, 31 Maret 2014
Si S dan Pejuang Bab Satu
Menjadi seorang mahasiswi semester 8 bukanlah perkara mudah. Memang, tidak ada satupun semester yang aku rasa mudah untuk dijalani. Namun, semester 8 berbeda dengan tujuh semester lainnya. Sangat berbeda.
Sejak semester satu sampai tujuh, mayoritas tugas aku kerjakan secara berkelompok. Karena, ya memang seperti itulah kehidupan di Fakultas Psikologi. Tugas yang dikerjakan, baik itu untuk presentasi, UTS, maupun UAS tidak sedikit yang jumlahnya berkelompok. Lalu, sampailah aku pada semester 8. Sebuah semester yang membuatku harus menyelesaikan SKRIPSI. Tugas akhir yang bersifat individu.
Layaknya tokoh Lord Voldemort dalam setiap film Harry Potter, SKRIPSI menjadi satu nama yang tidak boleh disebut atau you-know-who. So, akhirnya setiap kali bertemu dengan teman seangkatan yang juga sedang berjuang mengerjakan Skripsi, aku selalu menyebutnya dengan "SI S".
"Apa kabar S lo?", "Sampai mana nih si S udah lo kerjain?", pertanyaan semacam itulah yang biasanya aku ajukan pada teman-teman yang masih merombak sana-sini bab 1,2,dan 3 nya. Lambat laun, aku mulai terbiasa menyebut istilah skripsi dengan "si S". Yah anggap saja itu "panggilan spesial" buatku untuk dirinya. Hahaha.
Semakin lama bergaul dengan teman-teman yang juga masih berjuang dengan S nya masing-masing, membuatku menemukan berbagai istilah atau sebutan baru. Misalnya saja, "Pejuang Bab Satu". Ya, tak sedikit pula yang ternyata masih memperjuangkan Bab 1 nya, mungkin sampai titik darah penghabisan. Masih merombak kalimat demi kalimat, mematangkan teori dengan membaca belasan bahkan mungkin puluhan jurnal, dan masih banyak lagi yang harus dilakukan untuk membuat Bab Satu mencapai istilah "Sempurna".
Aku pun bernasib sama. Masih berjuang untuk Bab Satu.
Masa mengerjakan si S ini memang tidak mudah. Namun, tidak pula sulit. Sebut aku beruntung karena memiliki seorang pembimbing yang keibuan. Meskipun beliau adalah orang yang disiplin dan perfeksionis, menurut ku.
Aku pun menarik napas panjang karena membayangkan jalan berliku di depan yang harus aku lewati untuk bisa menyelesaikan si S ini. Rasanya masih panjang sekali jalan yang harus aku lalui. Hal yang memotivasi ku saat ini adalah kalimat dari Ibu Dosen Pembimbing : "bukan kepandaian yang utama. Tapi, niat dan ketekunan itu kuncinya mengerjakan skripsi".
Baiklah! Aku harus cepat selesaikan si S ini dan segera melepaskan predikat "Pejuang Bab Satu".
Sejak semester satu sampai tujuh, mayoritas tugas aku kerjakan secara berkelompok. Karena, ya memang seperti itulah kehidupan di Fakultas Psikologi. Tugas yang dikerjakan, baik itu untuk presentasi, UTS, maupun UAS tidak sedikit yang jumlahnya berkelompok. Lalu, sampailah aku pada semester 8. Sebuah semester yang membuatku harus menyelesaikan SKRIPSI. Tugas akhir yang bersifat individu.
Layaknya tokoh Lord Voldemort dalam setiap film Harry Potter, SKRIPSI menjadi satu nama yang tidak boleh disebut atau you-know-who. So, akhirnya setiap kali bertemu dengan teman seangkatan yang juga sedang berjuang mengerjakan Skripsi, aku selalu menyebutnya dengan "SI S".
"Apa kabar S lo?", "Sampai mana nih si S udah lo kerjain?", pertanyaan semacam itulah yang biasanya aku ajukan pada teman-teman yang masih merombak sana-sini bab 1,2,dan 3 nya. Lambat laun, aku mulai terbiasa menyebut istilah skripsi dengan "si S". Yah anggap saja itu "panggilan spesial" buatku untuk dirinya. Hahaha.
Semakin lama bergaul dengan teman-teman yang juga masih berjuang dengan S nya masing-masing, membuatku menemukan berbagai istilah atau sebutan baru. Misalnya saja, "Pejuang Bab Satu". Ya, tak sedikit pula yang ternyata masih memperjuangkan Bab 1 nya, mungkin sampai titik darah penghabisan. Masih merombak kalimat demi kalimat, mematangkan teori dengan membaca belasan bahkan mungkin puluhan jurnal, dan masih banyak lagi yang harus dilakukan untuk membuat Bab Satu mencapai istilah "Sempurna".
Aku pun bernasib sama. Masih berjuang untuk Bab Satu.
Masa mengerjakan si S ini memang tidak mudah. Namun, tidak pula sulit. Sebut aku beruntung karena memiliki seorang pembimbing yang keibuan. Meskipun beliau adalah orang yang disiplin dan perfeksionis, menurut ku.
Aku pun menarik napas panjang karena membayangkan jalan berliku di depan yang harus aku lewati untuk bisa menyelesaikan si S ini. Rasanya masih panjang sekali jalan yang harus aku lalui. Hal yang memotivasi ku saat ini adalah kalimat dari Ibu Dosen Pembimbing : "bukan kepandaian yang utama. Tapi, niat dan ketekunan itu kuncinya mengerjakan skripsi".
Baiklah! Aku harus cepat selesaikan si S ini dan segera melepaskan predikat "Pejuang Bab Satu".
Senin, 05 Agustus 2013
This is the Time!
Minggu, 4 Agustus 2013.
Aku menerima beberapa pesan lewat sms maupun BBM mengenai suatu informasi terkini. Tentang seseorang. Seseorang yang sudah aku kagumi, bahkan aku cintai selama hampir 3 tahun. Seseorang yang membuatku termotivasi untuk hadir di kampus, meskipun tak banyak kegiatan untuk dijalani. Seseorang yang bisa membuatku tersenyum malu ketika membaca isi pesan singkatnya di handphone ku. Seseorang yang berinisial "E".
Ah..
Tapi, informasi terkini tentangnya ternyata membuatku berderai air mata. Tak percaya dengan seluruh isi pesan tersebut, aku pun memberanikan diri untuk membuka Facebook. Ternyata... benar! Ia kini tak lagi sendiri. Sudah ada seorang perempuan manis yang mengisi hatinya. It's such a painful thing, for sure. Jelas saja, siapa yang tidak sedih ketika mengetahui sosok yang didambakan justru sudah bersama orang lain. Lebih menyedihkan lagi karena perempuan ini adalah salah satu temanku. Teman yang cukup akrab dan dekat.
Kondisi ku pun carut marut. Liburan bersama keluarga besar ku rasanya super kacau. Aku bahkan sama sekali tak menikmati makan siang yang saat itu sudah ada di hadapanku. Aku hanya ingin sendiri. Diam dan menangis. Tapi... aku tahan semua kesedihan itu sampai sangat dalam. Aku tak ingin keluarga besarku menyadari ada sesuatu yang salah padaku. Sehingga, ku tutupi semuanya.
Menit berganti menit, jam berganti jam. Waktu terus berjalan. Aku pun perlahan mampu menghilangkan kesedihan itu. Membuatku bisa kembali tersenyum walaupun sedikit. Beberapa kawan menghiburku lewat BBM. Itu sudah cukup. Setidaknya, aku kembali mendapatkan motivasi untuk tetap menjalankan semuanya dengan maksimal. Life must go on.
So...
Tak dapat ku pungkiri, kenyataan itu memang menyakitkan. Tapi, ku coba maknai kejadian ini dengan positif. Aku mencoba memaknainya sebagai jawaban atas doa ku selama ini. Aku yakini bahwa ini adalah cara terbaik untuk aku bisa melupakan dirinya dan kembali melanjutkan hidupku dengan normal. Lagipula, setiap orang memang berhak untuk dicintai dan mencintai, bukan?
Selamat untuk dirinya :)
Aku menerima beberapa pesan lewat sms maupun BBM mengenai suatu informasi terkini. Tentang seseorang. Seseorang yang sudah aku kagumi, bahkan aku cintai selama hampir 3 tahun. Seseorang yang membuatku termotivasi untuk hadir di kampus, meskipun tak banyak kegiatan untuk dijalani. Seseorang yang bisa membuatku tersenyum malu ketika membaca isi pesan singkatnya di handphone ku. Seseorang yang berinisial "E".
Ah..
Tapi, informasi terkini tentangnya ternyata membuatku berderai air mata. Tak percaya dengan seluruh isi pesan tersebut, aku pun memberanikan diri untuk membuka Facebook. Ternyata... benar! Ia kini tak lagi sendiri. Sudah ada seorang perempuan manis yang mengisi hatinya. It's such a painful thing, for sure. Jelas saja, siapa yang tidak sedih ketika mengetahui sosok yang didambakan justru sudah bersama orang lain. Lebih menyedihkan lagi karena perempuan ini adalah salah satu temanku. Teman yang cukup akrab dan dekat.
Kondisi ku pun carut marut. Liburan bersama keluarga besar ku rasanya super kacau. Aku bahkan sama sekali tak menikmati makan siang yang saat itu sudah ada di hadapanku. Aku hanya ingin sendiri. Diam dan menangis. Tapi... aku tahan semua kesedihan itu sampai sangat dalam. Aku tak ingin keluarga besarku menyadari ada sesuatu yang salah padaku. Sehingga, ku tutupi semuanya.
Menit berganti menit, jam berganti jam. Waktu terus berjalan. Aku pun perlahan mampu menghilangkan kesedihan itu. Membuatku bisa kembali tersenyum walaupun sedikit. Beberapa kawan menghiburku lewat BBM. Itu sudah cukup. Setidaknya, aku kembali mendapatkan motivasi untuk tetap menjalankan semuanya dengan maksimal. Life must go on.
So...
Tak dapat ku pungkiri, kenyataan itu memang menyakitkan. Tapi, ku coba maknai kejadian ini dengan positif. Aku mencoba memaknainya sebagai jawaban atas doa ku selama ini. Aku yakini bahwa ini adalah cara terbaik untuk aku bisa melupakan dirinya dan kembali melanjutkan hidupku dengan normal. Lagipula, setiap orang memang berhak untuk dicintai dan mencintai, bukan?
Selamat untuk dirinya :)
Selasa, 02 April 2013
Pengemis yang Bukan Mengemis
Kemarin, saya sengaja menghabiskan waktu makan siang saya dengan membeli semangkuk soto mie dan sepiring nasi di sebuah pasar yang letaknya tidak jauh dari tempat saya tinggal.
Selain karena kebetulan kemarin kuliah saya sedang libur, saya juga sengaja ingin mencicipi lagi soto mie yang sudah hampir dua tahun warungnya tidak saya sambangi. Ya, ternyata rasa dan kenikmatan soto mie di Pasar Lama itu masih sama. Tidak berubah sejak pertama kali saya mengenalnya ketika masih duduk di bangku SMP.
Tapi, tulisan ini bukan tentang soto mie. Melainkan tentang sekelompok pengemis.
Ya, pengemis. Mereka datang di kala saya dan beberapa pengunjung yang sebagian besar pegawai kantoran itu sedang menikmati makan siang kami. Sebenarnya, pengermis datang itu adalah hal yang wajar terjadi. Menolak dengan halus untuk tidak memberikan uang kepada mereka pun bukan hal yang aneh, kan?
Tetapi, saya kali ini agak naik pitam ketika sekelompok pengemis tersebut datang dan menghampiri meja kami satu per satu. Bayangkan, ketika beberapa orang yang masih asyik menikmati semangkuk soto mie nya, para pengemis itu meminta uang dan memaksa! Cara mereka memaksa pun cukup mengganggu, menurut saya. Mereka akan berdiri diam di samping, depan, dan belakang pengunjung sampai diberikan uang. Ketika seorang pengunjung hanya memberikan sebuah koin uang 500 rupiah, mereka justru marah dan meminta lagi.
Hal itu pun terjadi saat mereka menghampiri saya. Tiga orang anak kecil, saya perkirakan usia nya masih 9 - 11 tahun, datang dengan tangan menengadah. Suara lirihnya seolah-olah membuat siapapun yang mendengarnya merasa mereka lemah tak berdaya. Saya pun menolak dengan halus sambil mengucapkan "maaf ya, dek". Tapi, mereka tak kunjung pergi. Mereka justru duduk di samping saya, satu orang di belakang saya, dan mengetukkan jari nya ke meja. Tak tahan dengan sikap mereka yang tidak sopan itu, saya pun bicara dengan nada yang agak tinggi, "Maaf ya, dek. Lainnya." Tak lupa pandangan tajam dari saya dan beberapa orang di sekitar saya yang mereka terganggu.
Muka mereka pun kesal. Satu dari antara mereka menggebrak meja, tanda kemarahan atau mungkin sekedar kesal. Lalu, mereka pun pergi meninggalkan warung makan tersebut sambil bersungut-sungut.
Sepanjang jalan, saya berpikir. Salahkah saya bersikap seperti itu kepada mereka? Saya coba merefleksikan diri lagi. Saya tidak akan melakukan hal tersebut jika saya tidak merasa terganggu. Tak hanya saya, pengunjung lain pun demikian.
Sebenarnya, menjadi suatu hal yang miris saat seorang anak yang seharusnya menghabiskan waktu dengan belajar dan bermain, justru mengemis dari satu tempat ke tempat lain. Tapi, kenapa pula harus mengemis? Akan lebih "terhormat" rasanya ketika mereka bekerja, seperti mengamen atau berjualan koran. Dewasa ini, saya mulai selektif ketika hendak memberi sedekah pada pengemis. Kenapa? Saya kecewa ketika melihat beberapa berita mengenai pengemis yang sebenarnya hidup layak. Bahkan, punya beberapa mobil. Belum lagi, saya pernah lihat beberapa pengemis ternyata punya "koordinator", berpura-pura cacat fisik supaya membuat orang merasa iba, dan menggunakan anak kecil sebagai daya tarik. Ah, miris sekali!
Jadi, sebenarnya, siapa yang harus bertanggungjawab akan semua ini? Siapa yang seharusnya mengusahakan perubahan yang lebih baik bagi anak-anak yang sepertinya terpaksa menjadi pengemis ini?
Selain karena kebetulan kemarin kuliah saya sedang libur, saya juga sengaja ingin mencicipi lagi soto mie yang sudah hampir dua tahun warungnya tidak saya sambangi. Ya, ternyata rasa dan kenikmatan soto mie di Pasar Lama itu masih sama. Tidak berubah sejak pertama kali saya mengenalnya ketika masih duduk di bangku SMP.
Tapi, tulisan ini bukan tentang soto mie. Melainkan tentang sekelompok pengemis.
Ya, pengemis. Mereka datang di kala saya dan beberapa pengunjung yang sebagian besar pegawai kantoran itu sedang menikmati makan siang kami. Sebenarnya, pengermis datang itu adalah hal yang wajar terjadi. Menolak dengan halus untuk tidak memberikan uang kepada mereka pun bukan hal yang aneh, kan?
Tetapi, saya kali ini agak naik pitam ketika sekelompok pengemis tersebut datang dan menghampiri meja kami satu per satu. Bayangkan, ketika beberapa orang yang masih asyik menikmati semangkuk soto mie nya, para pengemis itu meminta uang dan memaksa! Cara mereka memaksa pun cukup mengganggu, menurut saya. Mereka akan berdiri diam di samping, depan, dan belakang pengunjung sampai diberikan uang. Ketika seorang pengunjung hanya memberikan sebuah koin uang 500 rupiah, mereka justru marah dan meminta lagi.
Hal itu pun terjadi saat mereka menghampiri saya. Tiga orang anak kecil, saya perkirakan usia nya masih 9 - 11 tahun, datang dengan tangan menengadah. Suara lirihnya seolah-olah membuat siapapun yang mendengarnya merasa mereka lemah tak berdaya. Saya pun menolak dengan halus sambil mengucapkan "maaf ya, dek". Tapi, mereka tak kunjung pergi. Mereka justru duduk di samping saya, satu orang di belakang saya, dan mengetukkan jari nya ke meja. Tak tahan dengan sikap mereka yang tidak sopan itu, saya pun bicara dengan nada yang agak tinggi, "Maaf ya, dek. Lainnya." Tak lupa pandangan tajam dari saya dan beberapa orang di sekitar saya yang mereka terganggu.
Muka mereka pun kesal. Satu dari antara mereka menggebrak meja, tanda kemarahan atau mungkin sekedar kesal. Lalu, mereka pun pergi meninggalkan warung makan tersebut sambil bersungut-sungut.
Sepanjang jalan, saya berpikir. Salahkah saya bersikap seperti itu kepada mereka? Saya coba merefleksikan diri lagi. Saya tidak akan melakukan hal tersebut jika saya tidak merasa terganggu. Tak hanya saya, pengunjung lain pun demikian.
Sebenarnya, menjadi suatu hal yang miris saat seorang anak yang seharusnya menghabiskan waktu dengan belajar dan bermain, justru mengemis dari satu tempat ke tempat lain. Tapi, kenapa pula harus mengemis? Akan lebih "terhormat" rasanya ketika mereka bekerja, seperti mengamen atau berjualan koran. Dewasa ini, saya mulai selektif ketika hendak memberi sedekah pada pengemis. Kenapa? Saya kecewa ketika melihat beberapa berita mengenai pengemis yang sebenarnya hidup layak. Bahkan, punya beberapa mobil. Belum lagi, saya pernah lihat beberapa pengemis ternyata punya "koordinator", berpura-pura cacat fisik supaya membuat orang merasa iba, dan menggunakan anak kecil sebagai daya tarik. Ah, miris sekali!
Jadi, sebenarnya, siapa yang harus bertanggungjawab akan semua ini? Siapa yang seharusnya mengusahakan perubahan yang lebih baik bagi anak-anak yang sepertinya terpaksa menjadi pengemis ini?
Rabu, 13 Maret 2013
Fire Wings that Make Our Day!
Siang ini, selepas kuliah, aku dan kelima teman mendatangi sebuah pusat perbelanjaan (mall) di bilangan Blok M. Kami berencana untuk makan siang disana, sembari mencoba sebuah program promo bagi kalangan mahasiswa. Kami pun pergi bersama-sama dengan menggunakan mobil dari salah seorang teman, yaitu Tesar.
Toyota Yaris hitam pun melaju membelah jalanan ibukota. Untung saja, siang itu hari tidak terlalu panas dan lalu linta tidak terlampau padat. Sehingga, tidak sampai 30 menit, kami sudah tiba di parkiran Plaza Blom M. Kami semua pun lalu turun dari mobil dan bersama menuju ke restoran cepat saji yang letaknya ada di Foodcourt.
Setelah tiba, kami pun memesan makanan sesuai keinginan kami. Ada yang menggunakan program promo tersebut, namun ada juga yang menambahkan menu lain seperti sup. Aku dan Donna memutuskan untuk makan sepiring berdua karena jujur saja, aku belum terlalu lapar. Tapi, tidak bagi Tesar, Arnold, Cenna, dan Andi yang masing-masing memesan seporsi ayam dan nasi serta minumannya.
Pilihan kami semua jatuh pada menu yang diberi nama Fire Wings. Dari namanya, sudah jelas makanan yang disajikan adalah sayap, tepatnya sayap ayam. Warna dari makanan ini hitam pekat, hampir sama seperti warna hitam dari kecap manis. 3 potong sayap dan sebungkus nasi putih menjadi menu makan siang kami saat itu. Namun, yang membedakan adalah level dari fire wings yang kami pesan.
Yap! Menu ini memiliki satu keunikan, yaitu level atau tingkat ke-pedas-an dari sayap ayamnya. Mulai dari level 1 yang disebut beginner (well, aku pikir rasanya memang tidak pedas, bahkan tidak pedas sama sekali mungkin). Lalu, lanjut ke level 2 dan 3 yang diberi nama medium dan hot. Kemudian, ada level 4 yang jelas rasanya lebih pedas dari level 3. Terakhir, ada level 5 yang merupakan tingkatan paling tinggi yang aku yakinin rasa pedas nya pasti supeeeeer dahsyat!!
Ternyata, kami berenam memiliki reaksi yang berbeda-beda selama memakan fire wings tersebut. Ada Arnold yang bercucuran keringat, namun tetap asyik menikmati sayap ayam sensasional tersebut. Lalu, Andi, satu-satu nya dari kami yang memesan fire wings level 5. Ditambah lagi, entah memang sengaja atau hanya sekedar untuk penambah rasa pedas, ia masih menambahkan saus sambal di piringnya. Jelas saja, selama makan, Andi tidak banyak bicara. Ia pun bercucuran keringat dan bibir nya langsung memerah. Lalu, datanglah Cenna yang paling terakhir memesan makanan. Baru dua gigitan pertama saja, keringat langsung mengucur dan kedua matanya berair.
Kami pun tertawa terbahak-bahak melihat reaksi yang muncul dari sayap ayam sensasional ini. Pedas nya bumbu dari fire wings ini membuat kami sejenak melupakan berbagai tugas kuliah yang masih menumpuk. Meskipun aku secara pribadi merasa kalau terbahak-bahaknya tawa kami mengundang perhatian pengunjung lain, tapi aku tidak peduli. Toh kami tidak menganggu dan ya hal ini sangat terjadi tanpa kami rencakan sebelumnya. Aku pun sampai pada satu kesimpulan bahwa dinamakan fire karena memang sensasi after taste dari memakan sayap ayam ini adalah lidah dan tenggorakan yang rasanya seperti terbakar! waw!
Toyota Yaris hitam pun melaju membelah jalanan ibukota. Untung saja, siang itu hari tidak terlalu panas dan lalu linta tidak terlampau padat. Sehingga, tidak sampai 30 menit, kami sudah tiba di parkiran Plaza Blom M. Kami semua pun lalu turun dari mobil dan bersama menuju ke restoran cepat saji yang letaknya ada di Foodcourt.
Setelah tiba, kami pun memesan makanan sesuai keinginan kami. Ada yang menggunakan program promo tersebut, namun ada juga yang menambahkan menu lain seperti sup. Aku dan Donna memutuskan untuk makan sepiring berdua karena jujur saja, aku belum terlalu lapar. Tapi, tidak bagi Tesar, Arnold, Cenna, dan Andi yang masing-masing memesan seporsi ayam dan nasi serta minumannya.
Pilihan kami semua jatuh pada menu yang diberi nama Fire Wings. Dari namanya, sudah jelas makanan yang disajikan adalah sayap, tepatnya sayap ayam. Warna dari makanan ini hitam pekat, hampir sama seperti warna hitam dari kecap manis. 3 potong sayap dan sebungkus nasi putih menjadi menu makan siang kami saat itu. Namun, yang membedakan adalah level dari fire wings yang kami pesan.
Yap! Menu ini memiliki satu keunikan, yaitu level atau tingkat ke-pedas-an dari sayap ayamnya. Mulai dari level 1 yang disebut beginner (well, aku pikir rasanya memang tidak pedas, bahkan tidak pedas sama sekali mungkin). Lalu, lanjut ke level 2 dan 3 yang diberi nama medium dan hot. Kemudian, ada level 4 yang jelas rasanya lebih pedas dari level 3. Terakhir, ada level 5 yang merupakan tingkatan paling tinggi yang aku yakinin rasa pedas nya pasti supeeeeer dahsyat!!
Ternyata, kami berenam memiliki reaksi yang berbeda-beda selama memakan fire wings tersebut. Ada Arnold yang bercucuran keringat, namun tetap asyik menikmati sayap ayam sensasional tersebut. Lalu, Andi, satu-satu nya dari kami yang memesan fire wings level 5. Ditambah lagi, entah memang sengaja atau hanya sekedar untuk penambah rasa pedas, ia masih menambahkan saus sambal di piringnya. Jelas saja, selama makan, Andi tidak banyak bicara. Ia pun bercucuran keringat dan bibir nya langsung memerah. Lalu, datanglah Cenna yang paling terakhir memesan makanan. Baru dua gigitan pertama saja, keringat langsung mengucur dan kedua matanya berair.
Kami pun tertawa terbahak-bahak melihat reaksi yang muncul dari sayap ayam sensasional ini. Pedas nya bumbu dari fire wings ini membuat kami sejenak melupakan berbagai tugas kuliah yang masih menumpuk. Meskipun aku secara pribadi merasa kalau terbahak-bahaknya tawa kami mengundang perhatian pengunjung lain, tapi aku tidak peduli. Toh kami tidak menganggu dan ya hal ini sangat terjadi tanpa kami rencakan sebelumnya. Aku pun sampai pada satu kesimpulan bahwa dinamakan fire karena memang sensasi after taste dari memakan sayap ayam ini adalah lidah dan tenggorakan yang rasanya seperti terbakar! waw!
Jumat, 08 Februari 2013
5 Hari di Kota yang Penuh Kenangan dan Cerita
Aku sebenarnya selalu merasa sedih ketika mendengar kata "perpisahan". Walaupun aku sebenarnya tahu dan sangat memahami bahwa setiap kali ada perjumpaan, pasti akan ada perpisahan. Hal ini pun terjadi padaku kemarin. Aku harus berpisah dengan eyang, om, tante, dan kedua adik sepupu ku yang ada di Tegal. Sebuah kota di provinsi Jawa Tengah yang terkenal dengan kacang pilus, sate kambing muda, dan logat bicara masyarakatnya yang sedikit ngapak-ngapak.
Sejak hari Minggu (3 Februari 2013) aku, sendirian, memulai perjalanan panjang untuk menghabiskan waktu selama 5 hari di Tegal. Perjalanan aku mulai dengan memesan tiket seminggu sebelum keberangkatan. Lalu, dengan bus Transjakarta aku melaju ke Stasiun Gambir. Setelah tiba, aku pun menunggu selama sekitar satu setengah jam di stasiun yang memiliki ciri khas dinding berwarna hijau itu.
Tepat jam 11 pagi kereta Cirebon Express yang aku tumpangi pun akhirnya berangkat. Aku ada di kelas Bisnis saat itu. Selama perjalanan, aku hanya melihat ke arah luar jendela. Tersaji pemandangan kota dan juga sawah nan hijau di sepanjang perjalanan ku. Aku pun tak ingin melewatkan momen itu dan akhirnya aku abadikan dalam sebuah foto. Selain pemandangan, aku suka sekali saat melihat papan dari besi yang bertuliskan nama stasiun yang sedang dilewati oleh kereta. Sehinga, aku pun mengabadikan nama-nama daerah dan stasiun tersebut dalam pocket camera ku.
Akhirnya, aku tiba di kota dengan sejuta kenangan dan cerita ini. Aku disambut oleh adik sepupu ku yang berbadan cukup subur. Kami pun menuju ke rumah di Jalan Rambutan 6 dengan sepeda motor. Aku hanya membawa sebuah ransel hitam dan tas selempang sebagai daily pack ku. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk tiba ke rumah eyang. Sesampainya disana, aku langsung mandi dan pergi bersama-sama ke Gereja untuk Ibadah Minggu.
Hari berjalan begitu cepat. Keesokan harinya, aku membuat kue bersama eyang dan tante ku. Sambil sesekali kedua adik sepupu ku ikut ambil bagian dalam proses pembuatan kue ini. Kami lakukan itu seharian penuh. 4 resep kue kering kami praktekkan dan hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Proses pembuatannya pun menyenangkan bagiku, karena sudah lama sekali aku tidak melakukannya.
Keesokan harinya, aku berkesempatan mengunjungi berbagai tempat di Tegal. Kebetulan, eyang dari kedua orangtua ku berasal dari kota ini. Namun, eyang putri dan eyang kakung dari Papa ku sudah menghadap Sang Pencipta pada tahun 2004 dan 2009. Aku pun menggunakan liburan ku ini untuk ziarah ke makam eyang dan paman ku yang sudah tiada pada tahun 2009, hanya berselang 2 bulan dari eyang kakung. Tak lupa, aku juga kunjungi makan eyang kakung dari Mama ku yang sudah pergi pada tahun 1996, saat usia ku baru 5 tahun. Jadi, ada 4 makam yang aku datangi saat itu bersama tante dan adik sepupu ku.
Tak cuma ziarah, aku pun mengunjungi berbagai daerah yang ada di Tegal. Ada peternakan bebek, daerah Mejasem, tambak milik almarhum Eyang, dan masih banyak lagi. Hari Selasa, 5 Februari 2013 aku gunakan untuk berkeliling kota dengan adik sepupu ku.
Hari ketiga, kebetulan dirumah Eyang yang adalah ibu dari Mama ku, ada pertemuan lansia yang tergabung dalam PWRI. Sehingga, ibarat memiliki sebuah hajatan, kami pun yang ada di rumah itu sejak pagi sudah menyiapkan berbagai hal. Mulai dari memasak, membereskan ruang tamu, sampai menyiapkan peralatan makan untuk para tamu.
Tak terasa sore hari pun tiba dan setelah beristirahat dengan tidur siang, aku diantar oleh tante membeli beberapa buah tangan untuk dibawa kembali ke Tangerang. Sudah pasti aku membeli beberapa makanan khas dari kota ini, dong. Mulai dari latopia, telor asin Brebes, tahu Banjaran, kripik, dan kue kering hasil karya aku dan eyang di hari Senin lalu.
Ternyata, hari itu adalah hari terakhir bagiku berada di Tegal. Esok harinya, aku harus kembali ke Tangerang pada jam 06.00. Itu artinya aku harus berangkat pagi-pagi, bukan? Ya, sedih memang. Tapi, aku memang harus kembali. Menghadapi kembali segudang aktivitas yang sudah mengantri dan berjibaku lagi dengan macetnya ibukota yang tak kunjung usai.
Sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta (Stasiun Gambir), aku pun merenung. Aku tak menyangka, lima hari berada di Tegal, aku serasa menguak berbagai kenangan dan cerita yang pernah aku ukir di kota ini. Kota kelahiran Papa yang tidak sebesar Jakarta, namun penduduknya ramah, santun, dan aku nilai cukup kohesif.
Di kota ini, saat aku masih kecil, aku habiskan liburan Natal dan tahun baru bersama saudara-saudara yang datang dari berbagai kota di Pulau Jawa. Mengunjungi eyang, bertemu kangen satu sama lain, berbagi cerita, dan bersama-sama mencicipi kuliner khas kota Tegal.
Di kota ini pula, aku mengenal beberapa kawan yang tak kusangka sampai detik ini, kami masih berkomunikasi meskipun hanya melalui akun Facebook. Oh iya, di kota Tegal pula aku sempat memiliki kisah cinta yang meskipun sebentar, tapi akan selalu ada dalam kenanganku. Seseorang yang bisa membuat ku tertawa dengan logat khas Tegal nya dan senang berbagi cerita dengan ku. Aku pun sempat mencicipi manis asam nya berhubungan jarak jauh, ya di kota ini.
Aku merasakan banyak hal saat aku disana. Aku senang karena bisa sejenak meninggalkan hiruk pikuk kota Jakarta dan merasakan suasana berbeda di kota kecil nan indah ini. Aku berterima kasih untuk semua yang telah membuat lima hari ku di Tegal terasa menyenangkan. Aku harap, tahun ini, aku punya kesempatan lagi untuk mengunjungi Tegal.
Sejak hari Minggu (3 Februari 2013) aku, sendirian, memulai perjalanan panjang untuk menghabiskan waktu selama 5 hari di Tegal. Perjalanan aku mulai dengan memesan tiket seminggu sebelum keberangkatan. Lalu, dengan bus Transjakarta aku melaju ke Stasiun Gambir. Setelah tiba, aku pun menunggu selama sekitar satu setengah jam di stasiun yang memiliki ciri khas dinding berwarna hijau itu.
Tepat jam 11 pagi kereta Cirebon Express yang aku tumpangi pun akhirnya berangkat. Aku ada di kelas Bisnis saat itu. Selama perjalanan, aku hanya melihat ke arah luar jendela. Tersaji pemandangan kota dan juga sawah nan hijau di sepanjang perjalanan ku. Aku pun tak ingin melewatkan momen itu dan akhirnya aku abadikan dalam sebuah foto. Selain pemandangan, aku suka sekali saat melihat papan dari besi yang bertuliskan nama stasiun yang sedang dilewati oleh kereta. Sehinga, aku pun mengabadikan nama-nama daerah dan stasiun tersebut dalam pocket camera ku.
Akhirnya, aku tiba di kota dengan sejuta kenangan dan cerita ini. Aku disambut oleh adik sepupu ku yang berbadan cukup subur. Kami pun menuju ke rumah di Jalan Rambutan 6 dengan sepeda motor. Aku hanya membawa sebuah ransel hitam dan tas selempang sebagai daily pack ku. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk tiba ke rumah eyang. Sesampainya disana, aku langsung mandi dan pergi bersama-sama ke Gereja untuk Ibadah Minggu.
Hari berjalan begitu cepat. Keesokan harinya, aku membuat kue bersama eyang dan tante ku. Sambil sesekali kedua adik sepupu ku ikut ambil bagian dalam proses pembuatan kue ini. Kami lakukan itu seharian penuh. 4 resep kue kering kami praktekkan dan hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Proses pembuatannya pun menyenangkan bagiku, karena sudah lama sekali aku tidak melakukannya.
Keesokan harinya, aku berkesempatan mengunjungi berbagai tempat di Tegal. Kebetulan, eyang dari kedua orangtua ku berasal dari kota ini. Namun, eyang putri dan eyang kakung dari Papa ku sudah menghadap Sang Pencipta pada tahun 2004 dan 2009. Aku pun menggunakan liburan ku ini untuk ziarah ke makam eyang dan paman ku yang sudah tiada pada tahun 2009, hanya berselang 2 bulan dari eyang kakung. Tak lupa, aku juga kunjungi makan eyang kakung dari Mama ku yang sudah pergi pada tahun 1996, saat usia ku baru 5 tahun. Jadi, ada 4 makam yang aku datangi saat itu bersama tante dan adik sepupu ku.
Tak cuma ziarah, aku pun mengunjungi berbagai daerah yang ada di Tegal. Ada peternakan bebek, daerah Mejasem, tambak milik almarhum Eyang, dan masih banyak lagi. Hari Selasa, 5 Februari 2013 aku gunakan untuk berkeliling kota dengan adik sepupu ku.
Hari ketiga, kebetulan dirumah Eyang yang adalah ibu dari Mama ku, ada pertemuan lansia yang tergabung dalam PWRI. Sehingga, ibarat memiliki sebuah hajatan, kami pun yang ada di rumah itu sejak pagi sudah menyiapkan berbagai hal. Mulai dari memasak, membereskan ruang tamu, sampai menyiapkan peralatan makan untuk para tamu.
Tak terasa sore hari pun tiba dan setelah beristirahat dengan tidur siang, aku diantar oleh tante membeli beberapa buah tangan untuk dibawa kembali ke Tangerang. Sudah pasti aku membeli beberapa makanan khas dari kota ini, dong. Mulai dari latopia, telor asin Brebes, tahu Banjaran, kripik, dan kue kering hasil karya aku dan eyang di hari Senin lalu.
Ternyata, hari itu adalah hari terakhir bagiku berada di Tegal. Esok harinya, aku harus kembali ke Tangerang pada jam 06.00. Itu artinya aku harus berangkat pagi-pagi, bukan? Ya, sedih memang. Tapi, aku memang harus kembali. Menghadapi kembali segudang aktivitas yang sudah mengantri dan berjibaku lagi dengan macetnya ibukota yang tak kunjung usai.
Sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta (Stasiun Gambir), aku pun merenung. Aku tak menyangka, lima hari berada di Tegal, aku serasa menguak berbagai kenangan dan cerita yang pernah aku ukir di kota ini. Kota kelahiran Papa yang tidak sebesar Jakarta, namun penduduknya ramah, santun, dan aku nilai cukup kohesif.
Di kota ini, saat aku masih kecil, aku habiskan liburan Natal dan tahun baru bersama saudara-saudara yang datang dari berbagai kota di Pulau Jawa. Mengunjungi eyang, bertemu kangen satu sama lain, berbagi cerita, dan bersama-sama mencicipi kuliner khas kota Tegal.
Di kota ini pula, aku mengenal beberapa kawan yang tak kusangka sampai detik ini, kami masih berkomunikasi meskipun hanya melalui akun Facebook. Oh iya, di kota Tegal pula aku sempat memiliki kisah cinta yang meskipun sebentar, tapi akan selalu ada dalam kenanganku. Seseorang yang bisa membuat ku tertawa dengan logat khas Tegal nya dan senang berbagi cerita dengan ku. Aku pun sempat mencicipi manis asam nya berhubungan jarak jauh, ya di kota ini.
Aku merasakan banyak hal saat aku disana. Aku senang karena bisa sejenak meninggalkan hiruk pikuk kota Jakarta dan merasakan suasana berbeda di kota kecil nan indah ini. Aku berterima kasih untuk semua yang telah membuat lima hari ku di Tegal terasa menyenangkan. Aku harap, tahun ini, aku punya kesempatan lagi untuk mengunjungi Tegal.
Langganan:
Postingan (Atom)