Sabtu, 14 Juli 2012

Finally, DONE!

Puji Tuhan!!
Itulah kalimat pertama yang aku ucapkan ketika pertama kali melihat hasil nilai semester 4 secara online. Tidak ada nilai D untuk semester ini. Itu artinya, tidak ada mata kuliah yang tidak lulus di semester ini.

Nah, tidak seperti biasanya, kemarin aku merasa sangat gugup dan detak jantungku pun lama-lama semakin cepat irama nya ketika menunggu loading nilai di rainbow. Sungguh, aku sangat gugup dan takut! Bahkan, aku sampai menutupi wajah dengan kedua telapak tanganku.

Ya, trauma akan kegagalan yang aku alami di semester 3, membuatku sangat takut. Aku takut gagal lagi. Aku tidak siap jika harus melihat huruf D di nilai ku semester ini, sama seperti yang terjadi di semester sebelumnya. IP pun tidak cukup memuaskan, bahkan aku mengutuk semester ganjil lalu. Tapi... tak ada guna nya kalau aku hanya meratapi nasib. Pelan-pelan, aku berusaha untuk meningkatkan nilai di semester 4 dan ternyata hasilnya cukup memuaskan.

Sama seperti kebanyakan (bahkan mungkin semua) mahasiswa angkatan 2010 lainnya, semester 4 ini memang semester yang amat sangat sangat melelahkan. Sudah bukan hal asing ketika bertemu mereka di foodcourt Plaza Semanggi, McDonald Plaza Sentral, dan Hall C. Menginap di rumah teman pun menjadi hal yang amat sangat lumrah dan sering dilakukan di semester ini. Yap! Semua dilakukan semata-mata hanya untuk menyelesaikan paper, mengerjakan tugas kelompok, dan meraih nilai.

Tak aneh lagi jika melihat timeline di Twitter yang mengatakan bahwa semester 4 ini adalah semester kerja rodi, semester jahanam, semester paling melelahkan, dan sebagainya. Tak sedikit juga yang akhirnya jatuh sakit, entah itu hanya kelelahan biasa atau sampai harus dirawat di rumah sakit dan menangis karena kelelahan. Kopi pun menjadi teman setia ketika kami semua terpaksa begadang untuk mengerjakan tugas di Google Docs (gdocs). Tak lupa, ketika lapar menyerang, indomie menjadi solusi yang pas dan tercepat untuk memuaskan nafsu makan yang datang di tengah malam.

Well..
Aku pun melakukan dan merasakan hal yang sama. Lelah yang aku rasakan bukan hanya lelah fisik, tapi juga batin dan pikiran. Belum lagi konflik yang tidak bisa dipungkiri, menguji kekompakan kami sebagai kelompok. Tapi... lagi-lagi tak hentinya aku bersyukur bisa melewati semester ini dengan nilai yang cukup memuaskan. Meskipun ada satu huruf C yang tersisip diantara nilai yang lain, tapi untukku, bisa lulus di semua mata kuliah saja sudah sebuah berkat.

Terima kasih aku ucapkan untuk Tuhan Yesus, orang tua, teman-teman baikku, teman-teman kelompok, dan para asdos. Bukan bermaksud sombong, tapi aku menuliskan semua ini sebagai sebuah curahan hati. Thanks! :)

Print Screen nilai semester 4

Selasa, 10 Juli 2012

A Story from Village - Day 2



Kicauan burung, cahaya mentari yang samar-samar menembus gorden rumah kami, serta sejuknya udara pagi membuat kami terbangun dari tidur nyenyak. Satu persatu dari kami bangun, membereskan selimut serta jaket yang jadi kawan tidur tadi malam. Pintu rumah pun dibuka dan langsung saja, angin pegunungan mengenai wajah dan tubuh kami. Membuat kami kembali merapatkan jaket sambil sesekali meniup kedua telapak tangan untuk mengurangi rasa dingin yang kami rasakan.

Kami awali pagi dengan mencuci muka, sikat gigi, dan tak lama berselang kami pun dihampiri anak-anak yang tadi malam bermain dengan kami. Mereka menyapa kami dengan senyum dan canda tawa, membuat kami lebih bersemangat. Ajakan mereka untuk bermain bersama pun kami ikuti di pagi hari itu.


Kami saling bercanda-ria, mengobrol, memberi makan ikan, dan bermain taplak meja. Meskipun kami agak sebal dengan mereka yang tertawa karena melihat kami kedinginan di pagi hari ; menggunakan jaket, celana panjang, kaos kaki, bahkan sesekali kami meniup lalu menggosokkan kedua telapak tangan kami agar lebih hangat. Sedangkan, anak-anak ini, meskipun fisiknya lebih kecil daripada kami, tapi mereka tidak merasa kedinginan sama sekali. Bahkan, seorang diantara mereka menantangku "ayo atuh kakak berani engga mandi jam 5? hahaha"

Wah.. jujur saja kalau harus mandi jam 5 pagi dengan air dingin, aku sangat tidak sanggup! Itu sama artinya dengan berendam di air es.

Aktivitas kami lanjutkan dengan sarapan bersama. Lauk sederhana namun rasanya sungguh nikmat di lidah kami. Kebersamaan semakin terasa karena kami sarapan bersama anak-anak ini. Kami lahap sekali menghabiskan makanan yang disediakan Pak Anton.

Selesai makan, kami lanjutkan aktivitas kami dengan berkunjung ke rumah warga. Kalau kemarin kami ke aktivis desa, RT, dan RW, kali ini kami sengaja berkunjung ke warga desa yang rumahnya masih terbuat dari bilik bambu dan berbentuk panggung. Kami melewati sawah dan jalanan berbaju yang sangat jauh berbeda dengan kondisi di Jakarta.

Inilah kami bersama seluruh anak-anak desa yang ikut berkunjung ke rumah warga

Kami pun hanyut dalam kegembiraan bersama anak-anak ini untuk mengunjungi warga dari satu rumah ke rumah lain. Kelelahan yang kami rasakan hilang karena sukacita yang ada. Suasana desa yang hangat, udara yang sejuk, dan air yang dingin membuat kami rasanya ingin tinggal 1 malam lagi disini. Namun, apa daya? Kami harus kembali ke Jakarta. Berkutat dengan semua tugas dan kewajiban kami. Berjibaku dengan kemacetan, polusi udara, dan panasnya cuaca ibukota yang sudah menjadi bumbu harian kami menjalani aktivitas.

Akhirnya waktu juga yang memisahkan Aku, Amink, Vindy, Anne, dan Nesha dengan desa ini. Desa dengan sejuta cerita yang mau menerima kami selama 2 hari 1 malam. Desa yang membuat kami sejenak bisa menyegarkan pikiran dan tubuh kami dengan sejuknya udara di pagi, siang, sore, dan malam hari. Kami pun meninggalkan desa ini dengan sedih, namun juga ada rasa gembira. Sedih karena kami harus berpisah dengan mereka ; Pak Anton, anak-anak desa, dan suasana di desa Kaca-Kaca Dua. Namun, kami juga gembira karena kami akan kembali ke Jakarta, ke rumah kami masing-masing.

Kami dihantar Pak Anton yang juga kebetulan akan kembali ke Bandung. Namun, kami masih mendapatkan kejutan lagi dari Pak Anton. Kami dibawa ke Gunung Puntang untuk melihat keindahan alam disana. Dan.. ternyata, Gunung Puntang adalah tempat yang biasa digunakan mahasiswa/i Fakultas Teknik Unika Atma Jaya untuk berkemah.
Pesan dari FT-UAJ
Para mahasiswa/i FT-UAJ pun ternyata memberikan sebuah "hadiah" yang isinya berupa pesan mengenai hutan. Maklum saja, hutan di negara kita ini makin lama eksistensi nya semakin terancam. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan kita putra dan putri bangsa yang menjaga kelestarian hutan di Indonesia ini? Toh semuanya demi masa depan anak cucu kita bukan?
" Hutam Sumber Kehidupan.. Jaga dan Lestarikanlah Hutan Kita"

Kami pun berjalan menyusuri jalan setapak Gunung Puntang menuju sebuah sungai. Kanan kiri kami hanyalah kumpulan semak-semak dan rumput liar yang sengaja dibiarkan bertumbuh sampai lebat agar suasana asri tetap terjaga. Hampur 10 menit berjalan dan akhirnya......... sebuah sungai! Kami melihat dari kejauhan, kira-kira 3 meter. Namun, meskipun terpisah jarak 3 meter, segarnya air terasa di dalam tubuh kami. And, this is another great view that totally different with Jakarta, right? 

Tak tahan jika hanya memandangi dari kejauhan, kami pun segera menuju ke pinggir sungai tersebut. Kami lepas alas kaki dan menggulung celana. Kami jeburkan kami ke air. Brrrrrr! Dingin sekali. Itulah hal pertama yang kami ungkap dan rasakan saat kaki kami menyentuh air sungai ini.

Bukan "kami" namanya kalau tidak mengabadikan setiap momen dengan foto. Awalnya kami sempat tidak enak untuk meminta Pak Anton menjadi fotografer sementara untuk berfoto di sungai ini. Tapi, entah kenapa, Pak Anton bisa menangkap sinyal-sinyal "minta tolong" kami. Hahahaha. Pak Anton pun akhirnya menawarkan diri untuk menjadi fotografer sementara bagi kami di tempat ini.

inilah kami :)

inilah kami part II

inilah kami part III

Dan.. ya.. di sungai inilah kami mengakhiri liburan singkat kami. Setelah cukup puas memanjakan mata dengan pemandangan yang sangat indah, kami pun kembali ke Jakarta. Tapi.. tak lengkap rasanya jika tidak membawa oleh-oleh khas Jawa Barat untuk keluarga di rumah. Akhirnya, kami memutuskan untuk mampir sejenak di Bandung. Membeli beberapa oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta.

Kami senang. Kami gembira. Dan, kami tak sabar menanti jadwal kami untuk berkunjung ke desa ini yang kedua kalinya :)

Jumat, 06 Juli 2012

Kisah Singkat Bapak Supir Taksi

Aku pernah berbincang dengan seorang supir taksi yang usianya sudah tidak muda lagi. Di saat pria seumurannya sedang menikmati hari tua, bapak ini justru harus terus banting tulang demi keluarga. Ya, usianya sudah lebih dari setengah abad, tepatnya 52 tahun. Ia adalah seorang suami dan ayah dari dua orang anak yang kini sudah menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta.

Aku berbincang banyak mengenai kisah hidupnya. Awalnya, aku hanya iseng menanyakan sudah berapa lama bapak bekerja menjadi supir taksi? Bapak supir ini menjawab bahwa ia belum lama menekuni profesi ini. Bahkan, belum sampai satu tahun. Belum sempat aku melontarkan pertanyaan berikutnya, bapak ini bercerita tentang awal mula ia menjadi supir taksi.

Bapak supir ini adalah seorang sarjana. Ya, ia merupakan alumni sebuah institut teknik yang ada di Indonesia. Pekerjaan yang ia tekuni sebenarnya cukup baik, bahkan bisa dibilang mapan. Karir sebagai manajer terus menanjak. Meskipun, sampai akhirnya pada pertengahan tahun 2010, krisis global yang saat itu melanda perekonomian dunia, ikut memberikan dampak bagi perusahaan tempat bapak supir ini bekerja. Alhsasil, ia pun terkena PHK dan perusahaan tersebut ditutup.

Bapak supir ini pun memulai bisnis kecil-kecilan. Namun, sayang, dewi fortuna mungkin belum berpihak padanya. Bisnis nya tersendat. Bapak supir ini sadar bahwa sebagai seorang kepala kelurga, ia tidak bisa tinggal diam. Akhirnya, ia memutuskan menjadi supir taksi demi memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.

Aku merasa terharu mendengar kisahnya. Bapak supir ini mengatakan bahwa semua ia lakukan agar kedua anaknya bisa menjadi sarjana. Ia dan istrinya ingin melihat kedua anaknya bisa menggunakan toga dan dinyatakan lulus dengan gelar sarjana nya masing-masing. Ia tidak peduli jika dirinya harus terus bekerja keras pagi sampai malam, bahkan sampai pagi lagi. Fokusnya saat ini hanya satu, yaitu keluarga.

Bapak supir ini mengaku bahwa kehidupan yang ia dan keluarganya jalani saat ini berbeda 180 derajat. Dulu, ia termasuk orang dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Namun, kini, baginya dan keluarga, bisa setiap hari makan pun mereka bersyukur. Ia selalu berpesan pada kedua anaknya bahwa inilah kehidupan yang harus mereka jalani. Semua ini adalah kehendak Tuhan dan memang inilah yang terbaik. Ia pun bercerita bahwa pada awalnya, istri dan kedua anaknya tidak siap menghadapi ini semua. Terutama, anaknya yang pertama, yang hidup sebagai mahasiswi di salah satu kampus bergengsi di ibukota. Bapak supir ini selalu berusaha memberikan pengertian pada keluarga nya dan berjanji bahwa ini hanya sementara.

Aku semakin tertegun mendengar kisahnya. Aku yang juga seorang mahasiswi merasa terbawa dalam emosi anak pertama bapak supir ini. Aku tahu, pasti sulit baginya menjalani kehidupan yang snagat jauh berbeda dengan kehidupannya dahulu. Tapi, aku salut dengan bapak supir ini. Ia selalu berusaha memberikan pengertian bagi keluarganya.

Bapak supir ini berpesan padaku, bahwa sebagai manusia kita harus selalu bersyukur. Bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan. Selain itu, mengharagai adalah suatu hal yang juga penting. Baik itu menghargai orang lain ataupun benda seperti makanan dan uang.

Terima kasih, bapak supir. Kisah yang bapak ceritakan di perjalanan ini membuatku belajar mengenai roda kehidupan.

Sabtu, 23 Juni 2012

A Story from Village - Day 1

Udara sejuk, sawah yang terbentang luas, gemericik air sungai, minim polusi udara, dan suasana akrab satu sama lain antar warga adalah hal langka yang aku temui di kota besar. Termasuk kota ku tinggal saat ini.
(dari kiri ke kanan) Anne, Aku, Nesha, Vindy, dan Amink

Aku merasa sangat nyaman berada di tempat ini. Sebuah desa di provinsi Jawa Barat yang bisa ditempuh sekitar 5 jam dari Jakarta menggunakan mobil. Dan, disinilah petualanganku menyusuri serta mencoba lebih dekat dengan desa ini dimulai. Tapi... aku tidak sendiri. Ada 4 orang temanku yang juga turut serta. Mereka adalah Vindy, Amink, Nesha, dan Anne. Kami berpetualang selama 2 hari 1 malam di desa Kaca-Kaca Dua. Dan, inilah sekilas perjalanan serta petualangan kami disana.

Selesai berkunjung dari rumah Bapak RT


DAY #1

Di hari pertama, sejenak kami beristirahat dari perjalanan panjang. Lalu, kami langsung menuju ke beberapa rumah warga desa, lebih tepatnya mereka yang punya peran di desa tersebut. Ada RT, RW, dan beberapa aktivis setempat. Tujuannya hanya satu, memperkenalkan diri sebagai tamu di desa tersebut. Tapi, kami tidak hanya berlima untuk berkunjung ke rumah-rumah warga. Kami ditemani seorang bapak yang sangat baik hati. Namanya Bapak Anton. Kami sudah mengenalnya 2 minggu sebelum kami berangkat ke desa itu. Kami mengenalnya karena beliau adalah seseorang yang bisa menghubungkan kami dengan pihak desa terkait dengan sebuah project yang akan kami lakukan di desa Kaca-Kaca Dua. Selain hubungan kerja, kami sudah menganggap Bapak Anton seperti sahabat sendiri. Sikapnya yang ramah dan sigap membantu membuat kami merasa beruntung bisa mengenal beliau.

Kunjungan ke rumah Bapak RW
Kunjungan kami akhiri ketika mendengar Adzan Maghrib. Kami kembali ke tempat penginapan. Oh iya! Bicara soal tempat penginapan, kami bukan menginap di hotel ataupun villa. Kami menginap di rumah milik Bapak Anton yang juga merupakan warga desa setempat. Rumah yang kami tempati adalah rumah yang sudah tidak dipakai lagi. Ukurannya kira-kira 4x4 meter. Buat kami, tempat ini sudah sangat bisa menjadi tempat berlindung dari dinginnya udara gunung dan pedesaan. Tentu saja, kami sangat berterima kasih pada Bapak Anton.
Aktivitas di malam hari kami lanjutkan dengan makan malam bersama. Lauk sederhana berupa oseng-oseng tahu, sambal, lalapan, ikan asin, dan nasi merah menjadi menu santap kami malam itu. Nikmatnya sungguh luar biasa. Makan malam kami selingi dengan obrolan ringan antara kami berlima dengan Bapak Anton smabil sesekali tertawa karena cerita lucu yang terlontar. Sungguh sangat terasa suasana akrab kami malam itu.

tempat kami menginap
Selesai makan, kami pun beristirahat sejenak sambil bermain dengan beberapa anak-anak yang tinggal di sekitar tempat kami menginap. Kami bermain sambil belajar. Menyenangkan sekali rasanya bisa lebih dekat dan akrab dengan warga desa disini. Aaaah... jarang sekali aku merasa nyaman seperti ini, merasa hangat di tengah udara dingin yang menusuk kulit, dan hanya ada canda, tawa, dan sorak gembira diantara kami malam itu.

Hari pertama kami hampir selesai. Pukul 22.00 kami memutuskan untuk beristirahat. Masih banyak aktivitas yang harus kami lakukan besok. Rumah pun kami kunci dan kami semua akhirnya terlelap. Dinginnya udara malam hari itu membuat kami menutupi sekujur tubuh dengan selimut dan jaket. Beruntungnya Amink karena siaga dengan membawa sleeping bag. Biarpun dingin, kami akhirnya tertidur pulas juga. Dan, kami siap hadapi hari esok.





Selasa, 12 Juni 2012

REFLEKSI DIRI : Mengapa dan Untuk Apa Saya Disini?

Refleksi diri malam ini (12 Juni 2012) adalah tentang masa depan saya terkait kuliah yang sedang saya jalani saat ini. Ya, sebenarnya sudah sejak awal memasuki masa kuliah, saya terus bertanya, "kenapa saya memilih jurusan ini?" Pertanyaan itu ternyata terus berlanjut sampai saat ini, saat saya sudah menginjak semester 4.

Jujur saja, ilmu ini bukanlah minat saya. Bahkan, terpikirkan pun tidak. Saya juga tidak memiliki gambaran atau bayangan akan jadi apa saya nanti setelah lulus? atau gampangnya, apa yang akan saya lakukan setelah lulus? Semua pertanyaan itu berkecamuk di dalam batin dan pikiran saya. Kadang, disaat saya sedang berada "dibawah", yang muncul hanyalah rasa pesimis dan takut. Ya, saya takut akan masa depan saya.

Saya takut mengecewakan Ibu dan Bapak dalam hal akademis di kuliah saya. Saya takut tidak mampu menyelesaikan pendidikan sarjana selama 4 tahun. Saya takut jika Ibu dan Bapak harus terus menerus mengeluarkan biaya untuk kuliah yang harganya selangit. Saya takut untuk menjalani suatu hal (pekerjaan) yang bukan menjadi passion saya. Karena, percayalah, saya tidak akan total dalam menjalani nya. Saya takut, hal itu akan menjadikan saya manusia paling tidak tahu diri, karena sudah (bahkan hampir selalu) menyusahkan kedua orangtua namun tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk mereka.

Berusaha untuk tetap bertahan adalah hal yang saya lakukan sampai detik ini. Saya sama sekali tidak ingin mengeluh. Karena, saya merasa keluhan itu hanya akan membuat beban hidup semakin berat dan mencerminkan kelemahan dalam diri. Saya tidak mau dan tidak suka akan hal itu. Tapi, keadaan memaksa saya untuk mengeluh. Bahkan, hampir setiap hari. Saya mengeluhkan beban kuliah yang semakin berat. Saya mengeluhkan kemampuan akademis saya yang hanya pada angka rata-rata. Saya mengeluhkan mengapa saya ada disini?

Mengapa saya ada disini? Pertanyaan itu terus muncul dalam benak saya. Bahkan, kini ada lagi satu pertanyaan yang masih belum bisa saya temukan jawabannya. Untuk apa saya ada disini? Karena, ada ketakutan dan keraguan yang saya rasakan saat ini akan masa depan saya.. Tuhan, saya takut :(

Kamis, 24 Mei 2012

Ketika

Hidup penuh liku-liku.. Kadang suka, kadang duka..

Penggalan lirik diatas adalah hal yang memang benar adanya. Ada suka dan ada duka yang menjadi warna tersendiri di dalam hidup masing-masing insan manusia. Termasuk diriku.

Seringkali aku bertanya dalam hati dan dalam doa ku, "Tuhan, untuk apa aku ada di dunia ini?"
Pertanyaan itu sebenarnya masih belum terjawab sampai detik ini dan akan selalu menjadi misteri besar dalam hidupku, entah sampai kapan.

Aku punya alasan kenapa melontarkan pertanyaan tersebut pada Sang Pencipta. Alasannya adalah karena aku pernah berusaha untuk mengakhiri hidupku. Aku lupa tepatnya kapan, tapi saat itu aku belum tamat SMA. Aku merasa emosi ku masih labil dan pikiranku masih sempit.

Usaha untuk bunuh diri aku lakukan karena aku merasa tidak berguna ada di dunia ini. Aku merasa hanya menjadi benalu di lingkunganku. Aku merasa tidak memiliki bakat apapun dan hanya bisa pasrah ketika kalah bersaing. Makanya, aku pun bertanya padaNya, "untuk apa aku ada di dunia ini?"

Siapapun yang tidak mengalami hal yang sama seperti aku, pasti akan mengatakan bahwa aku bodoh pernah mencoba bunuh diri untuk alasan yang cemen. Ya, aku memang bodoh. Sangat bodoh. Tapi, tahukah Anda bagaimana rasanya ragu akan kemampuan diri sendiri? Dan merasa rendah diri karena berada di antara orang-orang superior dengan bakatnya masing-masing?

Jujur saja, sangat tidak enak. Aku merasa menjadi lapisan kedua bahkan paling bawah. Tidak mampu membuat orang terkesan dengan bakat yang aku punya dan selalu berharap keajaiban datang. Itu menyebalkan. Dan, Anda tidak akan bisa jika hanya membayangkan saja.

Seiring perjalanan waktu, aku belajar untuk menjadi lebih dewasa, terutama dalam iman dan pikiranku. Aku mencoba memandang semua hal positif dan selalu menanamkan dalam diri bahwa setiap manusia diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Aku pun semakin mengenal banyak orang dengan keunikan dan kepribadian masing-masing yang membuaku semakin belajar arti dari hidup ini.

Aku mungkin belum menemukan jawaban atas pertanyaan tadi, namun setidaknya aku sudah bisa berpikir terbuka dan luas tentang keberadaan ku di dunia ini. Aku pun berjanji untuk tidak lagi berpikir apalagi sampai berusaha untuk bunuh diri. Aku ada di dunia ini karena IA punya rencana.

Minggu, 06 Mei 2012

Anak-anak dan Permainan

Jumat, 4 Mei 2012.
Saya berkesempatan pergi ke Bandung bersama dua orang kawan, Vindy dan Anne. Tulisan saya kali ini bukan soal rapat atau pertemuan yang kami lakukan dengan pengurus Keuskupan Bandung. Bukan juga cerita tentang perjalanan yang kami lakukan, yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Tapi, tulisan ini tentang refleksi diri saya mengenai anak-anak.

Sabtu sore, kami menunggu seorang bapak yang kebetulan mengenal jelas desa yang akan kami kunjungi, yaitu Bapak Anton. Kami bertiga, diantar seorang bapak dari Keuskupan Bandung, Pak Endar,  sepakat menemui Bapak Anton di SD Santa Ursula, Bandung. Murid-murid disana kebetulan sudah banyak yang pulang. Namun, masih ada beberapa yang menunggu orang tua mereka menjemput.

Selama menunggu hampir 1 jam, Saya duduk di kursi yang ada di sebuah aula besar tempat anak-anak menunggu orang tua nya yang letaknya tepat setelah memasuki gerbang utama. 

Disana ada banyak mainan anak-anak. Mainan tradisional, tentunya. Saya pun iseng melihat semua mainan itu. Ada congklak, puzzle, lego, mainan lain yang terbuat dari kayu, dan masih banyak lagi. Senang sekali rasanya melihat semua mainan itu. Memori tentang masa kecilku pun seketika itu pula muncul.

Saya ingat betul seluruh mainan itu pernah saya mainkan sampai usia SMP. Semua permainan yang menurut saya cukup mengasah otak dan keterampilan. Permainan lapangan lainnya juga jadi hiburan tersendiri di sore hari setelah bangun tidur siang. Misalnya saja, petak umpet, petak jongkok, atau galasin. Ah, ingin rasanya saya memainkan lagi semua permainan itu saat ini, disaat saya sudah menjadi seorang mahasiswi.

Saya pun merefleksikan semua mainan yang saya lihat dan pegang dengan masa kecil saya, lalu saya ingat betapa anak-anak di jaman sekarang mungkin sudah tidak mengenal semua jenis permainan itu. Mereka lebih memilih untuk memiliki gadget canggih yang jadi altenatif pengusir rasa bosan. Bahkan, mereka mungkin sudah terbiasa untuk membawa tablet pc seperti Ipad, Galaxy Tab, dan lainnya ketika bepergian dibandingkan orang lain yang lebih tua dari usianya.

Tidak ada yang salah jika memiliki gadget canggih sebagai alternatif pengusir rasa bosan. Namun, saya rasa hal itu akan menjadi masalah ketika gaya hidup serba canggih itu sudah dilakukan sejak kanak-kanak. Saya pikir, mereka akan menjadi generasi yang cenderung manja karena orang tua yang selalu memenuhi tuntutan gadget canggih yang jadi keinginannya. 

Tak hanya itu, saya pun berpikir bahwa mereka akan cenderung jarang bersosialisasi, karena merasa tanpa orang lain, mereka bisa terhibur dan menghabiskan waktu, terutama mengusir rasa bosan. 

Saya ingat betul, seorang murid sekolah minggu saya pernah sampai harus ditegur beberapa kali karena terus menerus memainkan PSP miliknya selama kegiatan LDK. Tentu saja, sebelum akhirnya mendapat teguran keras, ia sudah diingatkan secara halus. Namun, sikap yang cuek dengan teguran kami, gurunya, akhirnya membuat anak ini harus merelakan PSP nya disita sementara waktu sampai jam tidur malam datang.

Tak pernah terbayangkan pada saya akan jadi apa seluruh permainan tradisional dan edukatif yang sudah jarang dimainkan oleh anak-anak dimasa ini. Jangankan memainkan, mengenalnya saja bahkan mungkin tidak. Padahal, seluruh permainan itu mengasyikkan. Disamping semakin akrab dengan teman, permainan semacam itu lebih mengasah kemampuan dan otak, dan tentu saja olah raga. 

Sekarang, pertanyaan muncul dalam diri saya. Apa yang bisa saya dan seluruh pemuda lainnya bisa lakukan untuk tetap melestarikan permainan anak-anak tersebut? Bukan bermaksud menggeser eksistensi gadget canggih, namun membuat anak-anak (minimal) mengenal permainan lapangan ataupun permainan tradisional lainnya. Saya pun jadi tergelitik untuk memulainya dari lingkungan kecil di sekitar saya. Harapan saya tentu saja, membuat keberadaan permainan tradisional ini tetap eksis dan tidak hilang oleh jaman.