Aku sebenarnya selalu merasa sedih ketika mendengar kata "perpisahan". Walaupun aku sebenarnya tahu dan sangat memahami bahwa setiap kali ada perjumpaan, pasti akan ada perpisahan. Hal ini pun terjadi padaku kemarin. Aku harus berpisah dengan eyang, om, tante, dan kedua adik sepupu ku yang ada di Tegal. Sebuah kota di provinsi Jawa Tengah yang terkenal dengan kacang pilus, sate kambing muda, dan logat bicara masyarakatnya yang sedikit ngapak-ngapak.
Sejak hari Minggu (3 Februari 2013) aku, sendirian, memulai perjalanan panjang untuk menghabiskan waktu selama 5 hari di Tegal. Perjalanan aku mulai dengan memesan tiket seminggu sebelum keberangkatan. Lalu, dengan bus Transjakarta aku melaju ke Stasiun Gambir. Setelah tiba, aku pun menunggu selama sekitar satu setengah jam di stasiun yang memiliki ciri khas dinding berwarna hijau itu.
Tepat jam 11 pagi kereta Cirebon Express yang aku tumpangi pun akhirnya berangkat. Aku ada di kelas Bisnis saat itu. Selama perjalanan, aku hanya melihat ke arah luar jendela. Tersaji pemandangan kota dan juga sawah nan hijau di sepanjang perjalanan ku. Aku pun tak ingin melewatkan momen itu dan akhirnya aku abadikan dalam sebuah foto. Selain pemandangan, aku suka sekali saat melihat papan dari besi yang bertuliskan nama stasiun yang sedang dilewati oleh kereta. Sehinga, aku pun mengabadikan nama-nama daerah dan stasiun tersebut dalam pocket camera ku.
Akhirnya, aku tiba di kota dengan sejuta kenangan dan cerita ini. Aku disambut oleh adik sepupu ku yang berbadan cukup subur. Kami pun menuju ke rumah di Jalan Rambutan 6 dengan sepeda motor. Aku hanya membawa sebuah ransel hitam dan tas selempang sebagai daily pack ku. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk tiba ke rumah eyang. Sesampainya disana, aku langsung mandi dan pergi bersama-sama ke Gereja untuk Ibadah Minggu.
Hari berjalan begitu cepat. Keesokan harinya, aku membuat kue bersama eyang dan tante ku. Sambil sesekali kedua adik sepupu ku ikut ambil bagian dalam proses pembuatan kue ini. Kami lakukan itu seharian penuh. 4 resep kue kering kami praktekkan dan hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Proses pembuatannya pun menyenangkan bagiku, karena sudah lama sekali aku tidak melakukannya.
Keesokan harinya, aku berkesempatan mengunjungi berbagai tempat di Tegal. Kebetulan, eyang dari kedua orangtua ku berasal dari kota ini. Namun, eyang putri dan eyang kakung dari Papa ku sudah menghadap Sang Pencipta pada tahun 2004 dan 2009. Aku pun menggunakan liburan ku ini untuk ziarah ke makam eyang dan paman ku yang sudah tiada pada tahun 2009, hanya berselang 2 bulan dari eyang kakung. Tak lupa, aku juga kunjungi makan eyang kakung dari Mama ku yang sudah pergi pada tahun 1996, saat usia ku baru 5 tahun. Jadi, ada 4 makam yang aku datangi saat itu bersama tante dan adik sepupu ku.
Tak cuma ziarah, aku pun mengunjungi berbagai daerah yang ada di Tegal. Ada peternakan bebek, daerah Mejasem, tambak milik almarhum Eyang, dan masih banyak lagi. Hari Selasa, 5 Februari 2013 aku gunakan untuk berkeliling kota dengan adik sepupu ku.
Hari ketiga, kebetulan dirumah Eyang yang adalah ibu dari Mama ku, ada pertemuan lansia yang tergabung dalam PWRI. Sehingga, ibarat memiliki sebuah hajatan, kami pun yang ada di rumah itu sejak pagi sudah menyiapkan berbagai hal. Mulai dari memasak, membereskan ruang tamu, sampai menyiapkan peralatan makan untuk para tamu.
Tak terasa sore hari pun tiba dan setelah beristirahat dengan tidur siang, aku diantar oleh tante membeli beberapa buah tangan untuk dibawa kembali ke Tangerang. Sudah pasti aku membeli beberapa makanan khas dari kota ini, dong. Mulai dari latopia, telor asin Brebes, tahu Banjaran, kripik, dan kue kering hasil karya aku dan eyang di hari Senin lalu.
Ternyata, hari itu adalah hari terakhir bagiku berada di Tegal. Esok harinya, aku harus kembali ke Tangerang pada jam 06.00. Itu artinya aku harus berangkat pagi-pagi, bukan? Ya, sedih memang. Tapi, aku memang harus kembali. Menghadapi kembali segudang aktivitas yang sudah mengantri dan berjibaku lagi dengan macetnya ibukota yang tak kunjung usai.
Sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta (Stasiun Gambir), aku pun merenung. Aku tak menyangka, lima hari berada di Tegal, aku serasa menguak berbagai kenangan dan cerita yang pernah aku ukir di kota ini. Kota kelahiran Papa yang tidak sebesar Jakarta, namun penduduknya ramah, santun, dan aku nilai cukup kohesif.
Di kota ini, saat aku masih kecil, aku habiskan liburan Natal dan tahun baru bersama saudara-saudara yang datang dari berbagai kota di Pulau Jawa. Mengunjungi eyang, bertemu kangen satu sama lain, berbagi cerita, dan bersama-sama mencicipi kuliner khas kota Tegal.
Di kota ini pula, aku mengenal beberapa kawan yang tak kusangka sampai detik ini, kami masih berkomunikasi meskipun hanya melalui akun Facebook. Oh iya, di kota Tegal pula aku sempat memiliki kisah cinta yang meskipun sebentar, tapi akan selalu ada dalam kenanganku. Seseorang yang bisa membuat ku tertawa dengan logat khas Tegal nya dan senang berbagi cerita dengan ku. Aku pun sempat mencicipi manis asam nya berhubungan jarak jauh, ya di kota ini.
Aku merasakan banyak hal saat aku disana. Aku senang karena bisa sejenak meninggalkan hiruk pikuk kota Jakarta dan merasakan suasana berbeda di kota kecil nan indah ini. Aku berterima kasih untuk semua yang telah membuat lima hari ku di Tegal terasa menyenangkan. Aku harap, tahun ini, aku punya kesempatan lagi untuk mengunjungi Tegal.
kenapa cerita harian..? simple saja.. karena setiap hari, pasti ada cerita yang sayang jika tidak diabadikan dan dibagi.. :)
Jumat, 08 Februari 2013
Senin, 28 Januari 2013
Yeay! Finally.. :)
Wah, udah cukup lama juga ternyata engga posting tulisan di blog kesayangan gue ini. Bukan karena gue lagi males, tapi internet di rumah lagi dalam keadaan mati suri. Itu juga terjadi karena kebodohan gue sih sebenarnya. Hehehe. Entah kenapa, gue bisa tanpa sengaja menginjak modem yang ada di lantai dan alhasil, mati total tuh internet.
Well, tapi, kalau ada niat pasti ada jalan kan?
Untungnya, kampus gue selalu terkoneksi dengan internet dengan sinyal yang lumayan ciamik. Jadilah gue memanfaatkan hal ini untuk menyegarkan pikiran sekaligus mengisi libur panjang gue dengan menulis.
Kali ini, tulisan gue akan mengusung tema "Badai Pasti Berlalu".
Pasti readers berfikir kalau ini soal ujian hidup atau kegalauan yang sering dialami anak muda seusia gue gitu kan?
Sebenarnya engga 100% salah juga sih. Tapi, yang lebih tepat adalah soal ujian mental gue menghadapi semester 5 ini.
Oke, sedikit curhat aja nih kalau di semester 5 yang gue jalani kemarin itu memang gue rasakan cukup berat. Dari jumlah SKS sih emang engga besar ya.. cuma 18 SKS coy! Tapi, mata kuliah nya itu lumayan bikin gue hectic dengan tugas paper ataupun praktikum yang ciamik! Hhehehe.
Mulai dari Metodik Tes alias mettes yang selalu gue hadapi di setiap hari Senin. Tertera di KRS sih emang cuma 3 sks, tapi mata kuliah ini bisa dijalani sampai skeitar 5 sks loh dalam sekali pertemuan. Berat? Memang iya. Tapi, jujur aja, gue merasa cukup have fun dengan materi kuliah dan suasana kelasnya. Ditambah lagi, gue dan teman-teman yang mengambil mata kuliah ini harus memakai pakaian layaknya professional muda yang berkantor di darah Thamrin atau Kuningan. Kebayang dong gimana keren nya kita semua dengan kemeja, blazer, dan rok atau celana bahan serta sepatu vantovel warna gelap yang membuat para mahasiswi terlihat lebih tinggi. Nah, untuk para mahasiswa nya juga engga kalah oke nih. Kemeja dipadu dengan dasi dan celana bahan warna gelap plus sepatu vantovel hitam. Bener-bener kayak orang kantoran gitu deh..
Lalu, di hari Selasa gue menghadapi satu mata kuliah yang dosennya adalah Ibu Dekan Fakultas Psikologi. Sekaligus dosen favorit gue yang kalau ngajar selalu bisa bikin gue mencoba untuk mengungkapkan pendapat. Psikologi Lingkungan emang mata kuliah pilihan dan gue rasa, gue engga salah kok ngambil mata kuliah ini. Kenapa? Karena, gue belajar banyak tentang lingkungan fisik di berbagai kota maupun negara. Dari yang paling deket sama kita sebagai mahasiswi sampai yang cuma bisa kita bayangin aja kayak yang ada di luar negeri. Tentunya, karena gue adalah anak Psikologi, mata kuliah ini tetep punya unsur psikologi nya dong..
Lalu, ada lagi mata kuliah lain yang namanya Pelatihan. Ini nih yang bikin gue sempet ngerasa down karena sama sekali buta dengan pembuatan modul. Gue pun mengenal berbagai istilah baru yang awalnya agak asing, seperti TNA (Training Need Analysis), Situational Analysis, dan masih banyak lagi. Tapi, seiring berjalannya waktu dan Puji Tuhan punya kelompok yang oke punya, makanya gue bisa melewati mata kuliah ini dengan baik. Modul pun bisa selesai tepat waktu, praktik pelatihan bisa berjalan dengan baik, dan nilai pun akhirnya cukup memuaskan.
Terus, setelah berjibaku dengan kelas Pelatihan selama 2 setengah jam, gue pun beralih ke kelas lain, yaitu Psikopatologi. Namanya emang psikologi banget kan? Ternyata, materi nya juga. Disini, gue dan semua yang ambil mata kuliah ini diajarin untuk lebih memahami tentang berbagai macam disorder mulai dari gejala sampai terapi yang tepat. Gak heran kalau tugas nya juga banyak kan? Tapi, overall, gue merasa seru kok dengan mata kuliah ini. Selain materi yang selalu bikin penasaran, buku literatur nya juga asyik untuk dibaca dengan bahasa yang tidak terlalu rumit. Suasana kelas dan teman satu kelompok pun membuat gue merasa lebih nyaman untuk belajar di kelas mata kuliah yang dulu namanya adalah Psikologi Abnormal ini.
Nah, jumat adalah hari paling luar biasa untuk semester 5 ini. Gue harus mengikuti kelas Konseling, sebagai lanjutan dari mata kuliah Dasar Konseling (Daskon). Kalau dulu lebih banyak teori, di kelas Konseling kali ini, yang akan gue hadapi kebanyakan adalah praktik. Ya, sekitar 75% nya lah. Gue sempet mikir kalau ini adalah hal yang mudah karena basically gue adalah orang yang suka tugas lapangan. Ternyata, engga sama sekali! Bukan hal yang mudah untuk gue bisa berempati dan menjadi orang yang mau mendengarkan cerita orang lain. Disini, gue mencoba untuk bisa memposisikan diri sebagai seorang konselor. Mulai dari praktik di sekolah sampai membawa klien ke kampus. Ya, emang harus bisa pendekatan dengan baik nih ke orang-orang. Puji Tuhan, hasilnya memuaskan.
Selesai belajar menjadi seorang konselor, gue harus berhadapan dengan angka dan teori pengukuran yang bikin darah gue di kepala rasanya menggumpal. Emang dasarnya gue engga tertarik dengan matematika dari jaman gue SD kali ya? Jadi, ngadepin kelas ini rasanya beban banget. Ditambah lagi dengan buku yang bahasa nya susah dipahami, wah! Gue jadi makin nyut-nyutan rasanya. Tapi, Tuhan emang baik! Gue bisa melewati satu semester mata kuliah Psikometri dengan cukup memuaskan. Tinggal sekarang, berjuang menghadapi mata kuliah lanjutannya aja. Hahahah.
Well.. gue udah cerita panjang kali lebar. Panjang banget bahkan! Hahaha. Gue anggap semester 5 kemarin sebagai badai yang membuat gue sebagai nahkoda dalam sebuah kapal bisa melewati nya. Ya, sebuah tantangan yang kalau bisa diselesaikan dengan baik, akan menghasilkan senyum gembira nantinya, bukan?
Ternyata... harapan gue terkabul! :D
Gue bisa melewati semester ini dengan baik dan mengakhiri nya dengan senyuman gembira. Puji Tuhan banget! :)
Terima kasih, Tuhan Yesus..
Terima kasih, Ibu, Bapak, dan adek..
Terima kasih, teman-teman semua..
Well, tapi, kalau ada niat pasti ada jalan kan?
Untungnya, kampus gue selalu terkoneksi dengan internet dengan sinyal yang lumayan ciamik. Jadilah gue memanfaatkan hal ini untuk menyegarkan pikiran sekaligus mengisi libur panjang gue dengan menulis.
Kali ini, tulisan gue akan mengusung tema "Badai Pasti Berlalu".
Pasti readers berfikir kalau ini soal ujian hidup atau kegalauan yang sering dialami anak muda seusia gue gitu kan?
Sebenarnya engga 100% salah juga sih. Tapi, yang lebih tepat adalah soal ujian mental gue menghadapi semester 5 ini.
Oke, sedikit curhat aja nih kalau di semester 5 yang gue jalani kemarin itu memang gue rasakan cukup berat. Dari jumlah SKS sih emang engga besar ya.. cuma 18 SKS coy! Tapi, mata kuliah nya itu lumayan bikin gue hectic dengan tugas paper ataupun praktikum yang ciamik! Hhehehe.
Mulai dari Metodik Tes alias mettes yang selalu gue hadapi di setiap hari Senin. Tertera di KRS sih emang cuma 3 sks, tapi mata kuliah ini bisa dijalani sampai skeitar 5 sks loh dalam sekali pertemuan. Berat? Memang iya. Tapi, jujur aja, gue merasa cukup have fun dengan materi kuliah dan suasana kelasnya. Ditambah lagi, gue dan teman-teman yang mengambil mata kuliah ini harus memakai pakaian layaknya professional muda yang berkantor di darah Thamrin atau Kuningan. Kebayang dong gimana keren nya kita semua dengan kemeja, blazer, dan rok atau celana bahan serta sepatu vantovel warna gelap yang membuat para mahasiswi terlihat lebih tinggi. Nah, untuk para mahasiswa nya juga engga kalah oke nih. Kemeja dipadu dengan dasi dan celana bahan warna gelap plus sepatu vantovel hitam. Bener-bener kayak orang kantoran gitu deh..
Lalu, di hari Selasa gue menghadapi satu mata kuliah yang dosennya adalah Ibu Dekan Fakultas Psikologi. Sekaligus dosen favorit gue yang kalau ngajar selalu bisa bikin gue mencoba untuk mengungkapkan pendapat. Psikologi Lingkungan emang mata kuliah pilihan dan gue rasa, gue engga salah kok ngambil mata kuliah ini. Kenapa? Karena, gue belajar banyak tentang lingkungan fisik di berbagai kota maupun negara. Dari yang paling deket sama kita sebagai mahasiswi sampai yang cuma bisa kita bayangin aja kayak yang ada di luar negeri. Tentunya, karena gue adalah anak Psikologi, mata kuliah ini tetep punya unsur psikologi nya dong..
Lalu, ada lagi mata kuliah lain yang namanya Pelatihan. Ini nih yang bikin gue sempet ngerasa down karena sama sekali buta dengan pembuatan modul. Gue pun mengenal berbagai istilah baru yang awalnya agak asing, seperti TNA (Training Need Analysis), Situational Analysis, dan masih banyak lagi. Tapi, seiring berjalannya waktu dan Puji Tuhan punya kelompok yang oke punya, makanya gue bisa melewati mata kuliah ini dengan baik. Modul pun bisa selesai tepat waktu, praktik pelatihan bisa berjalan dengan baik, dan nilai pun akhirnya cukup memuaskan.
Terus, setelah berjibaku dengan kelas Pelatihan selama 2 setengah jam, gue pun beralih ke kelas lain, yaitu Psikopatologi. Namanya emang psikologi banget kan? Ternyata, materi nya juga. Disini, gue dan semua yang ambil mata kuliah ini diajarin untuk lebih memahami tentang berbagai macam disorder mulai dari gejala sampai terapi yang tepat. Gak heran kalau tugas nya juga banyak kan? Tapi, overall, gue merasa seru kok dengan mata kuliah ini. Selain materi yang selalu bikin penasaran, buku literatur nya juga asyik untuk dibaca dengan bahasa yang tidak terlalu rumit. Suasana kelas dan teman satu kelompok pun membuat gue merasa lebih nyaman untuk belajar di kelas mata kuliah yang dulu namanya adalah Psikologi Abnormal ini.
Nah, jumat adalah hari paling luar biasa untuk semester 5 ini. Gue harus mengikuti kelas Konseling, sebagai lanjutan dari mata kuliah Dasar Konseling (Daskon). Kalau dulu lebih banyak teori, di kelas Konseling kali ini, yang akan gue hadapi kebanyakan adalah praktik. Ya, sekitar 75% nya lah. Gue sempet mikir kalau ini adalah hal yang mudah karena basically gue adalah orang yang suka tugas lapangan. Ternyata, engga sama sekali! Bukan hal yang mudah untuk gue bisa berempati dan menjadi orang yang mau mendengarkan cerita orang lain. Disini, gue mencoba untuk bisa memposisikan diri sebagai seorang konselor. Mulai dari praktik di sekolah sampai membawa klien ke kampus. Ya, emang harus bisa pendekatan dengan baik nih ke orang-orang. Puji Tuhan, hasilnya memuaskan.
Selesai belajar menjadi seorang konselor, gue harus berhadapan dengan angka dan teori pengukuran yang bikin darah gue di kepala rasanya menggumpal. Emang dasarnya gue engga tertarik dengan matematika dari jaman gue SD kali ya? Jadi, ngadepin kelas ini rasanya beban banget. Ditambah lagi dengan buku yang bahasa nya susah dipahami, wah! Gue jadi makin nyut-nyutan rasanya. Tapi, Tuhan emang baik! Gue bisa melewati satu semester mata kuliah Psikometri dengan cukup memuaskan. Tinggal sekarang, berjuang menghadapi mata kuliah lanjutannya aja. Hahahah.
Well.. gue udah cerita panjang kali lebar. Panjang banget bahkan! Hahaha. Gue anggap semester 5 kemarin sebagai badai yang membuat gue sebagai nahkoda dalam sebuah kapal bisa melewati nya. Ya, sebuah tantangan yang kalau bisa diselesaikan dengan baik, akan menghasilkan senyum gembira nantinya, bukan?
Ternyata... harapan gue terkabul! :D
Gue bisa melewati semester ini dengan baik dan mengakhiri nya dengan senyuman gembira. Puji Tuhan banget! :)
Terima kasih, Tuhan Yesus..
Terima kasih, Ibu, Bapak, dan adek..
Terima kasih, teman-teman semua..
![]() |
| nilai semester 5 |
Sabtu, 05 Januari 2013
Sahabat.. Persahabatan.. Aku ragu!
Sahabat. Persahabatan.
Aku ragu dengan dua hal itu. Aku ragu tentang keberadaan mereka. Aku ragu kalau mereka benar-benar dimiliki dan dirasakan oleh setiap individu yang ada di dunia ini.
Keraguan ku mulai muncul ketika konflik datang ke persahabatan kami. Sayangnya, konflik ini hanya dialami oleh diriku saja. Tidak dengan yang lainnnya. Sehingga, tidak heran melihat mereka tetap berkumpul. Tanpa aku.
Dilupakan? Mungkin.
Tidak dianggap lagi? Bisa jadi.
Aku mencoba mandiri. Mencoba menguatkan tekad dan mengukuhkan diri. Mencoba untuk tegar. Tak perlu diragukan lagi, semuanya adalah hal sangat sulit. Tidak mudah bagiku untuk bisa tetap melihat mereka berkumpul, menampilkan wajah ceria, dan tertawa lepas. Namun, tanpa aku.
Konflik ini sulit untuk aku jelaskan. Bahkan, aku tidak bisa secara eksplisit memberikan rangkaian kata yang tepat untuk menggambarkan konflik ini. Aku hanya merasa sudah tidak nyaman lagi dengan mereka. Namun, mereka tidak coba untuk membuatku bertahan dalam persahabatan ini. Mereka melepasku. Aku mau tetap bergabung, mereka baik-baik saja. Aku mau keluar pun, bukan jadi masalah untuk mereka.
Lalu, hari ini.
Aku melihat sebuah album yang baru saja di upload salah seorang temanku, hemmm.. lebih aku anggap sebagai sahabat. Ya, sahabatku mengupload sebuah album yang foto-fotonya adalah mereka! Mereka berenam, tanpa aku.
Mereka terlihat sangat ceria, sangat gembira, tampil berbeda dengan gaun selutut, dan semua foto itu mengatakan fakta yang menyakitkan, yaitu mereka gembira tanpa aku.
Ah..
Aku semakin ragu. Aku semakin sulit mencari sahabat yang benar-benar sahabat.
Akankah keraguan ini terus berlanjut?
Selasa, 01 Januari 2013
HAPPY NEW YEAR 2013
HAPPY NEW YEAR 2013..!!!
Akhirnya.. tahun 2012 berakhir dan selamat datang masyarakat dunia di tahun 2013 ini..
Seneng deh rasanya bisa melewati tahun 2012 yang penuh dengan berbagai rumor tentang akhir jaman, ramalan suku maya, badai matahari, dan sebagainya.
Tapi.. akhir jaman itu pasti akan datang bukan?
Sebagai manusia biasa yang juga beriman, lebih baik kita mempersiapkan diri sebaik mungkin jika suatu saat nanti akhir jaman itu memang akan datang..
Kita engga pernah tahu kapan akan terjadi, bukan?
Nah..
Tapi, di tulisan ini, bukan soal akhir jaman yang mau aku tuliskan..
Aku senang dan ya merasa cukup bersukacita dengan perayaan malam tahun baru di tahun ini. Kali ini, aku menghabiskan malam tahun baru bersama teman-teman pelayanan yang tergabung di KPR GKJ Tangerang. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya sih aku ngerayain tahun baru sama mereka. Tapi, tahun ini terasa berbeda dan lebih nyatu :)
Pertama, banyak wajah baru yang di tahun lalu belum bergabung dengan kami.
Kedua, perjalanan kami kali ini cukup jauh dan disertai hujan rintik-rintik juga. Lumayan juga loh perjalanan 45 menit diguyur gerimis dan naik motor.
Ketiga, makanan nya lebih buanyaak. Bahkan, ini diluar prediksi kami. Ya, as what I have learned about, expect something terlalu tinggi, bakan kecewa terlalu tinggi juga, kan?
Tahun ini..
I don't really expect something to high untuk perayaan sekaligus ucap syukur malam tahun baru di tahun ini. Dan, aku engga kecewa... :)
Oke.. segini dulu deh curahan hati tentang tahun baru ku..
Ini cerita ku, bagaimana ceritamu?
Akhirnya.. tahun 2012 berakhir dan selamat datang masyarakat dunia di tahun 2013 ini..
Seneng deh rasanya bisa melewati tahun 2012 yang penuh dengan berbagai rumor tentang akhir jaman, ramalan suku maya, badai matahari, dan sebagainya.
Tapi.. akhir jaman itu pasti akan datang bukan?
Sebagai manusia biasa yang juga beriman, lebih baik kita mempersiapkan diri sebaik mungkin jika suatu saat nanti akhir jaman itu memang akan datang..
Kita engga pernah tahu kapan akan terjadi, bukan?
Nah..
Tapi, di tulisan ini, bukan soal akhir jaman yang mau aku tuliskan..
Aku senang dan ya merasa cukup bersukacita dengan perayaan malam tahun baru di tahun ini. Kali ini, aku menghabiskan malam tahun baru bersama teman-teman pelayanan yang tergabung di KPR GKJ Tangerang. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya sih aku ngerayain tahun baru sama mereka. Tapi, tahun ini terasa berbeda dan lebih nyatu :)
Pertama, banyak wajah baru yang di tahun lalu belum bergabung dengan kami.
Kedua, perjalanan kami kali ini cukup jauh dan disertai hujan rintik-rintik juga. Lumayan juga loh perjalanan 45 menit diguyur gerimis dan naik motor.
Ketiga, makanan nya lebih buanyaak. Bahkan, ini diluar prediksi kami. Ya, as what I have learned about, expect something terlalu tinggi, bakan kecewa terlalu tinggi juga, kan?
Tahun ini..
I don't really expect something to high untuk perayaan sekaligus ucap syukur malam tahun baru di tahun ini. Dan, aku engga kecewa... :)
Oke.. segini dulu deh curahan hati tentang tahun baru ku..
Ini cerita ku, bagaimana ceritamu?
Selasa, 25 Desember 2012
Thank God for this Christmas :)
Thank God..
karena aku masih bisa merayakan Natal di tahun 2012 ini.
Thank God..
aku masih KAU berikan kesempatan untuk bertemu, bertegur sapa, dan saling mengucap salam kepada seluruh anggota keluarga, sahabat, teman, dan seluruh kerabat yang ada.
Thank God..
KAU masih berikan aku talenta untuk memuji, memuliakan, dan menyembah MU dengan suara, tarian, dan hal lainnya di Natal tahun ini.
Thank God..
masih ada kesempatan dan waktu untukku bertemu dan bercakap-cakap dengan dirinya. Seseorang yang akhir-akhir ini membuatku bisa lebih merasakan indahnya berkatMu, belajar tentang kesederhanaan, dan berusaha untuk terus berpegang pada firmanMU. Kehadirannya adalah anugerah untukku.
THANK GOD for everything YOU give to me :)
karena aku masih bisa merayakan Natal di tahun 2012 ini.
Thank God..
aku masih KAU berikan kesempatan untuk bertemu, bertegur sapa, dan saling mengucap salam kepada seluruh anggota keluarga, sahabat, teman, dan seluruh kerabat yang ada.
Thank God..
KAU masih berikan aku talenta untuk memuji, memuliakan, dan menyembah MU dengan suara, tarian, dan hal lainnya di Natal tahun ini.
Thank God..
masih ada kesempatan dan waktu untukku bertemu dan bercakap-cakap dengan dirinya. Seseorang yang akhir-akhir ini membuatku bisa lebih merasakan indahnya berkatMu, belajar tentang kesederhanaan, dan berusaha untuk terus berpegang pada firmanMU. Kehadirannya adalah anugerah untukku.
THANK GOD for everything YOU give to me :)
MERRY CHRISTMAS 2012 and HAPPY NEW YEAR 2013
G O D B L E S S Y O U
Jumat, 21 Desember 2012
Desember.. Terakhir..
Resign menjadi keputusan paling tepat yang entah harus atau memang terpaksa Ibu lakukan di pekerjaannya saat ini. Berat memang dan berbagai pertimbangan pun sudah dilakukan. Mencoba bercerita pada Eyang sebagai suatu bentuk konsultasi, membagi pada aku sebagai anak pertama nya, dan yang pasti menceritakan pada Bapak untuk mencari keputusan yang tepat. Termasuk, membawanya dalam doa. Semua sudah dilakukan.
Percaya atau tidak, atasan Ibu di pekerjaannya saat ini adalah seseorang yang otoriter. Sangat otoriter. Bahkan, semua pegawai menilai beliau tidak memiliki hati. Well, aku memang tidak pantas untuk menyebut beliau "tidak memiliki hati". Karena, toh, aku tidak mengenalnya di keseharian ku. Selama ini, hanya mendengar lewat beberapa rekan kerja Ibu.
Situasi semakin memanas ketika OB (Office Boy) di kantor yang sudah mengabdi sejak perusahaan tersebut berdiri, dipecat secara tiba-tiba karena masalah salah paham. Kesalahpahaman yang sebenarnya akan bisa berakhir damai jika diberi kesempatan untuk menjelaskan. Namun, sayang, beliau terlalu berat untuk memberikan kesempatan tersebut kepada Mas OB. Tanpa pikir panjang, kata "kamu dipecat" pun meluncur dari bibirnya. Percaya atau tidak, semua pegawai sedih! Bahkan, beberapa dari mereka yang Muslim langsung Sholat dan berdzikir dengan tasbih. Yang lainnya berusaha menghubungi beberapa kantor untuk mencari lowongan sebagai OB.
Semua cinta kepada Mas OB ini. Orangnya ramah, penuh senyum, dan meskipun hanya sebagai OB, ia mau mengerjakan tugas nya dengan baik. Datang paling pagi, pulang paling malam. Menghidupi anak dan istri dengan gaji 800 ribu per bulan. Jelas, pemecatan ini membuat keluarga nya shock. Istri nya pun hanya bisa menangis dan meratapi hutang yang masih belum dilunasi. Ah! Benar-benar menyedihkan. Sangat menyedihkan.
Ya, sejak kejadian 3 hari yang lalu itu, suasana kantor berubah menjadi "dingin". Pegawai di kantor tersebut tidak habis pikir Ibu Bos tega melakukan itu. Aku sendiri tidak tahu pasti cerita dibalik pemecatan tersebut. Garis besar yang aku tahu, ini masalah uang Rp 190.000,-. Aku hanya bisa berdecak tidak percaya. Ini sungguh menyedihkan. Uang sejumlah seratus sembilan puluh ribu berakhir pada pekerjaan seseorang yang hanya seorang OB.
Aku pun teringat pembicaraan ku dengan salah satu kawan mengenai buruh di Indonesia. Ya, kawan ku itu merasa bahwa buruh adalah mereka yang punya kekuatan besar ketika berkumpul. Pekerjaannya berat, namun kesejahteraannya minim. Aku pun akhirnya melihat, mendengar, dan merasakan langsung hal tersebut. Ya, ini karena aku cukup mengenal mas OB selama Ibu bekerja disana. Mas OB selalu menemani ku mengobrol saat aku menunggu Ibu di kantor. Dia orang yang sangat baik. Kembali ke soal buruh, aku pun akhirnya berpikir, kapan ya kesejahteraan mereka akan meningkat? Ini bukan hanya soal uang lho! Siapa bilang, saat buruh diberikan uang, mereka akan langsung diam? Siapa tahu yang mereka butuhkan sebenarnya bukan sekedar uang. Namun, kesejahteraan yang tidak dapat diukur dengan uang.
Kesejahteraan itulah yang tidak Ibu ku dapatkan di kantornya selama bekerja. Keputusan untuk resign sepertinya adalah yang terbaik. Ibu selama ini bertahan demi keluarga. Membantu Bapak yang bekerja sebagai pengemudi taksi dengan penghasilan yang tidak pasti. Setidaknya, gaji Ibu mampu menutupi biaya dapur dan uang saku ku dan adik. Risiko nya saat Ibu resign adalah ibu tidak akan memiliki gaji lagi. Kami sekeluarga, sebagai manusia biasa pasti khawatir. Tapi, aku, adik, dan Bapak tidak tega melihat Ibu bekerja dengan tekanan seperti ini.
Ya... Desember 2012 ini mungkin bulan terakhir bagi Ibu untuk menjalani pekerjaannya. Segala pertimbangan yang sudah Ibu pikirkan semoga tetap menguatkan tekadnya untuk resign. Tuhan pasti akan berikan jalan. Amien.
Percaya atau tidak, atasan Ibu di pekerjaannya saat ini adalah seseorang yang otoriter. Sangat otoriter. Bahkan, semua pegawai menilai beliau tidak memiliki hati. Well, aku memang tidak pantas untuk menyebut beliau "tidak memiliki hati". Karena, toh, aku tidak mengenalnya di keseharian ku. Selama ini, hanya mendengar lewat beberapa rekan kerja Ibu.
Situasi semakin memanas ketika OB (Office Boy) di kantor yang sudah mengabdi sejak perusahaan tersebut berdiri, dipecat secara tiba-tiba karena masalah salah paham. Kesalahpahaman yang sebenarnya akan bisa berakhir damai jika diberi kesempatan untuk menjelaskan. Namun, sayang, beliau terlalu berat untuk memberikan kesempatan tersebut kepada Mas OB. Tanpa pikir panjang, kata "kamu dipecat" pun meluncur dari bibirnya. Percaya atau tidak, semua pegawai sedih! Bahkan, beberapa dari mereka yang Muslim langsung Sholat dan berdzikir dengan tasbih. Yang lainnya berusaha menghubungi beberapa kantor untuk mencari lowongan sebagai OB.
Semua cinta kepada Mas OB ini. Orangnya ramah, penuh senyum, dan meskipun hanya sebagai OB, ia mau mengerjakan tugas nya dengan baik. Datang paling pagi, pulang paling malam. Menghidupi anak dan istri dengan gaji 800 ribu per bulan. Jelas, pemecatan ini membuat keluarga nya shock. Istri nya pun hanya bisa menangis dan meratapi hutang yang masih belum dilunasi. Ah! Benar-benar menyedihkan. Sangat menyedihkan.
Ya, sejak kejadian 3 hari yang lalu itu, suasana kantor berubah menjadi "dingin". Pegawai di kantor tersebut tidak habis pikir Ibu Bos tega melakukan itu. Aku sendiri tidak tahu pasti cerita dibalik pemecatan tersebut. Garis besar yang aku tahu, ini masalah uang Rp 190.000,-. Aku hanya bisa berdecak tidak percaya. Ini sungguh menyedihkan. Uang sejumlah seratus sembilan puluh ribu berakhir pada pekerjaan seseorang yang hanya seorang OB.
Aku pun teringat pembicaraan ku dengan salah satu kawan mengenai buruh di Indonesia. Ya, kawan ku itu merasa bahwa buruh adalah mereka yang punya kekuatan besar ketika berkumpul. Pekerjaannya berat, namun kesejahteraannya minim. Aku pun akhirnya melihat, mendengar, dan merasakan langsung hal tersebut. Ya, ini karena aku cukup mengenal mas OB selama Ibu bekerja disana. Mas OB selalu menemani ku mengobrol saat aku menunggu Ibu di kantor. Dia orang yang sangat baik. Kembali ke soal buruh, aku pun akhirnya berpikir, kapan ya kesejahteraan mereka akan meningkat? Ini bukan hanya soal uang lho! Siapa bilang, saat buruh diberikan uang, mereka akan langsung diam? Siapa tahu yang mereka butuhkan sebenarnya bukan sekedar uang. Namun, kesejahteraan yang tidak dapat diukur dengan uang.
Kesejahteraan itulah yang tidak Ibu ku dapatkan di kantornya selama bekerja. Keputusan untuk resign sepertinya adalah yang terbaik. Ibu selama ini bertahan demi keluarga. Membantu Bapak yang bekerja sebagai pengemudi taksi dengan penghasilan yang tidak pasti. Setidaknya, gaji Ibu mampu menutupi biaya dapur dan uang saku ku dan adik. Risiko nya saat Ibu resign adalah ibu tidak akan memiliki gaji lagi. Kami sekeluarga, sebagai manusia biasa pasti khawatir. Tapi, aku, adik, dan Bapak tidak tega melihat Ibu bekerja dengan tekanan seperti ini.
Ya... Desember 2012 ini mungkin bulan terakhir bagi Ibu untuk menjalani pekerjaannya. Segala pertimbangan yang sudah Ibu pikirkan semoga tetap menguatkan tekadnya untuk resign. Tuhan pasti akan berikan jalan. Amien.
Rabu, 19 Desember 2012
Lelah yang Sudah Terlalu Lelah!
Natal hampir tiba.
Semua orang sibuk mempersiapkan ini dan itu. Merencakan liburan keluarga, mengunjungi kampung halaman, atau sekedar berkumpul di rumah sambil menikmati makanan favorit. Tak lupa, pohon Natal pun dipasang. Hias sana, hias sini. Pasang pita, pasang aksesoris, dan supaya lebih indah, pasang lampu kelap-kelip yang mengelilingi pohon. Wah! Cantik! Sangat cantik pohon Natal ini. Ketika malam hari, aku yakin lampunya akan menyinari seluruh ruangan. Memberikan kehangatan dan kedamaian di hari kelahiran Tuhan Yesus ribuan tahun yang lalu.
Tapi... semua itu hanya mimpi bagiku.
Aku bahkan merasa tidak ada greget sama sekali untuk mempersiapkan diri menghadapi Natal. Tidak ada pohon Natal, tidak ada hiasan lampu yang gemerlap, dan tidak ada liburan bersama keluarga,
Aku jalani hari demi hari di bulan Desember ini dengan biasa aja.
Aku rindu kehangatan keluarga yang sudah lama tidak aku rasakan. Bahkan, ketika Bapak ada di rumah, aku merasa seperti orang asing saat berbicara dengan Bapak. Sudah tidak lagi kurasakan kehangatan kasih seorang Bapak terhadap anaknya. Bahkan, kini Bapak lebih terlihat kurus, ringkih, dan lelah. Ya, lelah memikirkan akan makan apa besok keluarga ini? Harus bagaimana lagi mencari uang untuk menutupi hutang keluarga ini yang jumlahnya luar biasa besar?
Bapak ku bekerja sebagai seorang pengemudi taksi. Hal itu terpaksa dilakukan agar keluarga ini tetap hidup. Setiap harinya Bapak bangun jam 4 pagi, bekerja dari subuh hingga jam 1 pagi. Lalu, tidur hanya 2 - 3 jam, kemudian bangun dan bekerja lagi. Oh iya, Bapak hanya pulang di hari Minggu pagi dan kembali lagi ke pool taksi pada Senin subuh.
Aku pun rindu sosok Ibu yang biasa nya menyambut aku dengan hangat ketika aku pulang dari kuliah. Menyambut ku dengan senyumnya dan masakan lezat untuk makan siang. Kini, ketika aku sampai rumah, aku seorang diri. Ibu pun harus berjuang keras demi membantu Bapak menghidupi keluarga ini. Bekerja tanpa kenal waktu, pagi hingga malam. Tak peduli bos yang angkuh dan otoriter, semua Ibu jalani demi keluarga ini. Gaji yang hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari pun sebenarnya bagiku tidak layak. Ibu sudah terlalu lelah bekerja!!
Aku kangen, aku rindu Bapak dan Ibu!!
Aku rindu dengan kehangatan keluarga. Aku rindu menghabiskan liburan bersama Bapak, Ibu, dan Adik. Ya, semua itu hilang karena memikirkan hutang keluarga pada suatu bank. Semua salah perhitungan. Niat awal meminjam uang di bank adalah untuk usaha. Ternyata, usaha yang Bapak lakukan berjalan tersendat dan akhirnya kacau. Hutang tetaplah hutang dan harus dibayar bukan? Tapi, life must go on. Keluarga ini harus makan setiap hari nya. Aku dan adik harus kuliah, sampai kami sarjana.
Di hari menjelang Natal ini, aku sebenarnya rindu sekali utnuk bisa merayakannya bersama keluarga ku. Aku rindu masa-masa menghias Pohon Natal bersama. Sekarang..... jangankan menghias, Pohon Natal nya pun sekarang sudah tidak kokoh lagi berdiri. Usia yang sudah tua membuat pohon plastik ini rusak dimakan waktu. Kemudian, kondisi rumah yang juga ruang geraknya semakin terbatas membuat pohon Natal sepertinya hanya akan mempersempit rumah ini. Dan, jika harus membeli yang baru, darimana uang nya? Memikirkan dapur ngebul saja sudah membuat kepala mau pecah!
Liburan bersama keluarga ku kini adalah hal yang mustahil. Aku bahkan merasa untuk pergi makan malam di angkringan yang ada di pinggir jalan pun sudah tidak mungkin lagi. Bapak lebih memilih untuk tidur sepanjang hari ketika berada di rumah, karena ham tidur yang memang sangat kurang saat bekerja. Uang nya pun terbatas *sigh*.
Aku harus menahan diri untuk tidak merasa sedih, iri, dan kecewa saat teman-teman bercerita tentang liburan mereka. Liburan yang akan dihabiskan bersama keluarga. Ada yang ke Bali, ke kampung halaman, atau ke luar negeri. Semua gembira menyambut liburan ini. Kecuali aku.
Mungkin dengan apa yang aku tulis ini, Anda berpikir kalau aku bukanlah manusia yang bisa bersyukur. Tapi, coba lah Anda ada di posisi saya sekarang ini. Menghadapi kenyataan bahwa kehangatan keluarga mulai hilang. Namun, untuk menutupi kenyataan yang ada, aku selalu bercerita kalau aku dan keluarga ku sering menghabiskan waktu bersama. SEMUA BOHONG!! Semua aku lakukan karena aku tidak ingin ada yang mengetahui kondisi keluarga ku yang sebenarnya.
Konselor yang aku datangi pernah mengatakan, "berdamailah dengan dirimu sendiri". Aku sudah coba. Bersyukur pun sudah aku lakukan. Hanya saja, aku merasa tidak mampu lagi bertahan. Aku lelah. Aku terlalu lelah menghadapi semuanya.
Langganan:
Postingan (Atom)
